Monday, November 18, 2019

Cerpen PENCIPTA atau CIPTAAN-NYA?


Pencipta atau Ciptaan-Nya?
Oleh : Happy Dhea A. Sinaga

          Namaku Elizabeth Benedicta Mpatoki. Aku adalah seorang Biarawati di salah satu gereja khatolik yang ada di Sumbawa sekaligus tim medis di rumah sakit dibawah naungan gereja tersebut. Aku menjadi salah satu relawan medis dalam peristiwa Gempa Bumi di Flores pada 12 Desember 1992. Gempa bumi ini menyebabkan Tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores, memakan korban jiwa setidaknya 2.100 jiwa, 500 orang hilang dan 447 orang luka-luka, dan 500 orang pengungsi. Banyak kabupaten yang terkena gempa dan Tsunami. Namun aku masuk dalam regu yang dikirimkan ke posko pengungsian di Kota Maumere selaku kota yang paling parah terkena gempa dan Tsunami.
            Ketika aku tiba di lokasi bencana tersebut, hatiku serasa teriris melihat keadaan disana. Semua bangunan beralih menjadi reruntuhan. Ku lihat banyak sekali korban yang terluka parah, bahkan ku lihat juga ratusan kantong jenazah tersusun di sekitaran posko pengungsian. Aku juga mendengar jeritan tangis beberapa orang yang kehilangan anggota keluarganya. Sejak hari itu, aku memahat sebuah tekad dalam diriku bahwa aku akan tetap menjadi tim relawan medis untuk menolong korban yang masih bisa di selamatkan nyawanya.
            Di hari pertama aku menjadi relawan medis, sudah banyak korban yang ku tangani, mulai dari korban yang terluka parah maupun korban yang mengalami shock berat dan trauma. Aku menjalankan setiap tugasku sebagai relawan medis dengan sungguh-sungguh mulai dari pagi sampai malam, hingga rasa lapar dan dahaga ku kesampingkan. Satu hari pun terasa berlalu begitu cepat.
            Di hari ketiga, tidak banyak korban yang ku tangani, hal tersebut membuat aku memiliki waktu untuk beristirahat mengingat sejak hari pertama aku sangat kurang beristirahat. Ku putuskan untuk berkeliling sebentar melihat keadaan di sekeliling posko. Dalam batin aku bertanya pada Tuhan, mengapa hal ini menimpa ibu pertiwiku? Namun aku kembali tersadar bahwa semua ini terjadi atas kehendak Tuhan, dan sehabis hujan pasti akan terlukis pelangi yang indah.
            Tiba-tiba sayup-sayup ku dengar ada suara orang meminta tolong. Aku segera beranjak untuk mencari dari manakah sumber suara tersebut. Saat aku berjalan kedepan, suara tersebut semakin jelas terdengar. Tak lama ku lihat sebuah tangan terulur meminta pertolongan dari bawah reruntuhan. Ternyata ada yang masih hidup! Aku pun segera berlari meminta pertolongan agar bisa menolong korban yang tertimpa reruntuhan itu.
Proses pengevakuasian pun dilakukan. Namun proses evakuasi tersebut berlangsung cukup lama karena posisi korban yang terhimpit banyak reruntuhan. Namun korban berhasil dievakuasi. Aku langsung mengambil alih korban untuk ditangani lebih lanjut. Korban tersebut berjenis kelamin laki-laki. Ia mengalami pembusukan pada kaki kirinya karena tertimpa reruntuhan yang akhirnya harus di amputasi. Ia juga mengalami shock berat. Tak terbayang bagaimana ia bisa bertahan dengan kondisi seperti itu selama kurang lebih 3 hari pasca gempa tersebut.
Aku memutuskan untuk merawatnya secara intensif.  Aku merasa bertanggung jawab karena aku yang menemukannya di reruntuhan itu.
            Beberapa hari pun berlalu. Rasa shock yang ia rasakan perlahan sirna walaupun ia masih sedikit terpukul karena ia kehilangan ibu,ayah dan adiknya. Belakangan ku ketahui namanya adalah Nichloas Dominic. Ayahnya berkebangsaan Inggris dan ibunya asli dari Maumere. Ia masuk dalam kriteria lelaki tampan dengan badan ideal, kulit yang putih, rambut coklat agak gondrong dan mata abu-abu seperti menggunakan lensa kontak. Ia lancar menggunakan bahasa “Ibu” karena ia sudah cukup lama menetap di Indonesia. Ia menceritakan banyak hal padaku. Awalnya ia sudah putus asa dengan hidupnya.
 “Aku merasa hidupku sudah tidak ada gunanya lagi”, ujar Nicholas dengan mata berkaca-kaca.
“Mengapa kau berkata seperti itu?, tanyaku sambil mengernyitkan dahi.
“Aku kehilangan sebelah kakiku, bahkan aku juga kehilangan keluargaku!”, jawabnya sambil menangis tersedu.
Aku menepuk bahunya pelan. “Lantas, layakkah kau merasa hidupmu sudah tak ada gunanya lagi hanya karena hal itu? Hidupmu berhaga bagi Tuhan. Ingatlah selalu Tuhan tidak akan memberi pencobaan melebihi kekuatan umatnya. Tuhan sedang mengujimu, dan kau harus tahan uji!”, jelasku. Ia hanya terdiam dalam tangisnya dan aku kembali menenangkannya.
            Tak terasa sudah sebulan lebih aku merawatnya. Nicholas sudah lumayan pulih. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Hingga tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Nicholas. Aku berusaha menghalau semua perasaan itu, namun entah mengapa keinginan dagingku tak terkendali. Aku tak bisa memungkiri bahwa aku menyukainya. Ya, aku menyukai Nicholas! Namun aku tahu ini akan menjadi sebuah kesalahan besar. Sekuat tenaga ku tahan semua perasaan ini.
            Suatu hari aku dan Nicholas duduk bersama. Ia bertanya padaku,
“Mengapa kau menjadi Biarawati, Dicta?”, tanya Nichloas
“Sebenarnya jawabanku sangat sederhana. Aku hanya ingin memberikan seluruh hidupku untuk Tuhan.”, jawabku.
“Apa kau bahagia?”, tanyanya lagi.
“Tentu! Aku amat sangat bahagia”, ujarku dengan yakin.
“Meskipun kau tidak dapat membangun suatu hubungan dengan seseorang, kau tetap bahagia?”, tambahnya.
“Itu sudah menjadi konsekuensi yang harus ku tanggung”, jawabku.
“Apakah kau pernah jatuh cinta, Dicta?”
“Tentu aku pernah merasakan nya. Cinta adalah sesuatu yang tak terlepas dari setiap kehidupan manusia, Nic”, jawabku sambil menengadah menatap langit.
Seketika Nicholas mengubah posisi duduknya menghadap kearahku. Ia mengambil napas dalam-dalam.
“Aku menyukai mu Dicta. Aku jatuh cinta padamu. Jujur aku tak sembarangan menyatakan cinta kepada seorang wanita.” , ungkap Nicholas.
Mataku membelalak, otakku seolah berhenti bekerja, lidahku keluh, tubuhku menegang, dan aku hanya bisa terdiam. Nichloas melanjutkan perkataannya.
“Apakah aku salah memiliki perasaan ini terhadapmu? Kadang aku bertanya pada Tuhan, mengapa aku harus jatuh cinta kepadamu? Pada dirimu yang menyandang status Biarawati”, ucap Nicholas.
Seketika tangisku pun pecah. Tak ku sangka Nichloas mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Sambil tersedu-sedu aku berkata,
“Aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu, Nic. Ada satu titik dimana aku ingin sekali mengikuti keinginan dagingku untuk bersamamu. Namun aku tak sanggup menyangkal komitmen yang sudah ku bangun bersama Tuhan. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil, Nic. Aku harap kau mengerti posisiku saat ini.” ujarku lirih.
Nicholas menghela napas panjang.
“Aku mengerti Dicta. Yang terpenting aku sudah memberitahumu tentang perasaanku padamu dan aku juga sudah tahu bahwa kau memiliki perasaan yang sama terhadapku. Itu sudah membuatku bahagia, meski kita tidak akan bisa bersama. Ku hormati keputusanmu, Dicta”, ujar Nicholas dengan senyuman yang mampu menyejukkan hati.
            Masa-masa diriku menjadi relawan pun berakhir. Tiba saatnya aku pulang ke Sumbawa. Sebelum aku berangkat pulang, Nicholas menemuiku. Ia memberiku sebuah kalung bertuliskan “FAITH”.
“Ambil ini Dicta. Anggap ini kenang-kenangan dariku karena kau telah mengajarkanku untuk selalu bersyukur atas apapun yang terjadi dalam hidupku. Ingat selalu akan aku ya”, ujar Nicholas sambil tersenyum hangat, senyuman yang menunjukkan lekukan lesung pipi di wajahnya.
“Baiklah. Terima kasih, Nic. Selamat tinggal”, ujarku
“Selamat tinggal? Kata-kata macam apa itu? Bisakah kau menggantinya dengan kata ‘Sampai bertemu lagi?”, pintanya.
Aku tertawa kecil mendengar apa yang ia katakan.
“Ya, baiklah Nic. Sampai bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik. Ingatlah selalu bahwa Tuhan mengasihimu. Lanjutkan hidupmu yang berharga itu, Nic”, ujarku.
“Tentu Dicta. Semoga Tuhan memberkatimu selalu”, jawab Nicholas masih dengan senyum yang menenangkan hati.
Aku pun berjalan menuju mobil yang akan membawaku pulang. Sebelum masuk ke mobil, aku berbalik badan dan melambaikan tanganku pada Nicholas. Ia pun balas melambai padaku.
Begitulah akhir kisahku bersamanya yang disaksikan oleh langit Maumere.
Aku tiba di Sumbawa dengan selamat. Aku membawa banyak kisah yang hanya akan ku simpan dalam lubuk hatiku yang terdalam, dan juga dalam ingatanku. Aku pun melanjutkan kehidupanku.

            3 Tahun pun berlalu. Suatu pagi saat aku sedang berada dalam gereja sehabis berdoa, Pastor Lambertus, pemimpin kami, memanggilku.
“Suster Benedicta, kemarilah. Ada sesuatu yang ingin ku berikan”, ujar Pastor Lambertus.
“Ya, Pastor. Apa yang ingin anda berikan pada saya?”, tanyaku penasaran.
“Ini ada sebuah undangan untukmu, suster Benedicta. Tadi ada kurir yang mengantarkannya” ujar Pastor Lambertus.
“Terimakasih pastor”, ucapku.
Pastor Lambertus pun berlalu meninggalkanku yang masih heran dengan sepucuk undangan yang ku genggam ini. Perlahan kubuka dan kubaca dengan seksama undangan dan surat yang ada didalamnya. Ternyata itu adalah undangan pernikahan Nicholas bersama wanita bernama Patricia. Mereka akan melangsungkan pernikahan di Maumere. Dalam suratnya, Nicholas menceritakan bahwa sesaat setelah aku kembali ke Sumbawa, nenek Nicholas datang dan membawanya kembali untuk tinggal di London. Nicholas memulai kehidupannya yang baru, namun ia masih memikirkan ku. Sampai akhirnya nenek Nicholas mengenalkannya pada Patricia. Mereka pun saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menjalin hubungan dan menikah. Aku sangat bahagia melihat surat berisi kabar sukacita dari Nicholas.

Di akhir suratnya, Nicholas menuliskan :
            “I’ll Never Forget You, Elizabeth Benedicta”
Seketika air mata mengalir dari pelupuk mataku, membasahi pipiku perlahan namun pasti. Air mata ini bukanlah air mata kesedihan, namun ini adalah air mata kebahagiaan. Aku bersyukur pada Tuhan karena memberi Nicholas kebahagian dalam kehidupan barunya. Nicholas pantas mendapatkannya, mengingat banyak hal duka yang telah ia lewati dalam fase titik terendah hidupnya, sampai akhirnya ia dapat bangkit dan melanjutkan kehidupannya.
Aku juga berterima kasih pada Tuhan karena Tuhan sudah mengizinkan aku merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, walau aku dan Nicholas tak bisa bersama. Pertemuanku dengan Nicholas dan rasa yang pernah ada antara kami berdua akan selalu aku kenang untuk mengingat betapa baiknya Tuhan mengizinkan semua itu boleh terjadi didalam hidupku.



-SELESAI-
Kelompok Diskusi Ilmu Ekonomi
(KODIE FE UNIMED)