Pencipta
atau Ciptaan-Nya?
Oleh
: Happy Dhea A. Sinaga
Namaku Elizabeth Benedicta Mpatoki. Aku
adalah seorang Biarawati di salah satu gereja khatolik yang ada di Sumbawa
sekaligus tim medis di rumah sakit dibawah naungan gereja tersebut. Aku menjadi
salah satu relawan medis dalam peristiwa Gempa Bumi di Flores pada 12 Desember
1992. Gempa bumi ini menyebabkan Tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan
rumah di pesisir pantai Flores, memakan korban jiwa setidaknya 2.100 jiwa, 500
orang hilang dan 447 orang luka-luka, dan 500 orang pengungsi. Banyak kabupaten
yang terkena gempa dan Tsunami. Namun aku masuk dalam regu yang dikirimkan ke
posko pengungsian di Kota Maumere selaku kota yang paling parah terkena gempa
dan Tsunami.
Ketika aku tiba di lokasi bencana tersebut, hatiku serasa
teriris melihat keadaan disana. Semua bangunan beralih menjadi reruntuhan. Ku
lihat banyak sekali korban yang terluka parah, bahkan ku lihat juga ratusan
kantong jenazah tersusun di sekitaran posko pengungsian. Aku juga mendengar
jeritan tangis beberapa orang yang kehilangan anggota keluarganya. Sejak hari
itu, aku memahat sebuah tekad dalam diriku bahwa aku akan tetap menjadi tim
relawan medis untuk menolong korban yang masih bisa di selamatkan nyawanya.
Di hari pertama aku menjadi relawan medis, sudah banyak
korban yang ku tangani, mulai dari korban yang terluka parah maupun korban yang
mengalami shock berat dan trauma. Aku menjalankan setiap tugasku sebagai
relawan medis dengan sungguh-sungguh mulai dari pagi sampai malam, hingga rasa
lapar dan dahaga ku kesampingkan. Satu hari pun terasa berlalu begitu cepat.
Di hari ketiga, tidak banyak korban yang ku tangani, hal
tersebut membuat aku memiliki waktu untuk beristirahat mengingat sejak hari
pertama aku sangat kurang beristirahat. Ku putuskan untuk berkeliling sebentar
melihat keadaan di sekeliling posko. Dalam batin aku bertanya pada Tuhan,
mengapa hal ini menimpa ibu pertiwiku? Namun aku kembali tersadar bahwa semua
ini terjadi atas kehendak Tuhan, dan sehabis hujan pasti akan terlukis pelangi
yang indah.
Tiba-tiba sayup-sayup ku dengar ada suara orang meminta
tolong. Aku segera beranjak untuk mencari dari manakah sumber suara tersebut.
Saat aku berjalan kedepan, suara tersebut semakin jelas terdengar. Tak lama ku
lihat sebuah tangan terulur meminta pertolongan dari bawah reruntuhan. Ternyata
ada yang masih hidup! Aku pun segera berlari meminta pertolongan agar bisa
menolong korban yang tertimpa reruntuhan itu.
Proses pengevakuasian
pun dilakukan. Namun proses evakuasi tersebut berlangsung cukup lama karena
posisi korban yang terhimpit banyak reruntuhan. Namun korban berhasil
dievakuasi. Aku langsung mengambil alih korban untuk ditangani lebih lanjut.
Korban tersebut berjenis kelamin laki-laki. Ia mengalami pembusukan pada kaki
kirinya karena tertimpa reruntuhan yang akhirnya harus di amputasi. Ia juga
mengalami shock berat. Tak terbayang bagaimana ia bisa bertahan dengan kondisi
seperti itu selama kurang lebih 3 hari pasca gempa tersebut.
Aku memutuskan untuk merawatnya
secara intensif. Aku merasa bertanggung
jawab karena aku yang menemukannya di reruntuhan itu.
Beberapa hari pun berlalu. Rasa shock yang ia rasakan
perlahan sirna walaupun ia masih sedikit terpukul karena ia kehilangan ibu,ayah
dan adiknya. Belakangan ku ketahui namanya adalah Nichloas Dominic. Ayahnya
berkebangsaan Inggris dan ibunya asli dari Maumere. Ia masuk dalam kriteria
lelaki tampan dengan badan ideal, kulit yang putih, rambut coklat agak gondrong
dan mata abu-abu seperti menggunakan lensa kontak. Ia lancar menggunakan bahasa
“Ibu” karena ia sudah cukup lama menetap di Indonesia. Ia menceritakan banyak
hal padaku. Awalnya ia sudah putus asa dengan hidupnya.
“Aku merasa hidupku sudah tidak ada gunanya
lagi”, ujar Nicholas dengan mata berkaca-kaca.
“Mengapa kau berkata
seperti itu?, tanyaku sambil mengernyitkan dahi.
“Aku kehilangan sebelah
kakiku, bahkan aku juga kehilangan keluargaku!”, jawabnya sambil menangis
tersedu.
Aku menepuk bahunya
pelan. “Lantas, layakkah kau merasa hidupmu sudah tak ada gunanya lagi hanya
karena hal itu? Hidupmu berhaga bagi Tuhan. Ingatlah selalu Tuhan tidak akan
memberi pencobaan melebihi kekuatan umatnya. Tuhan sedang mengujimu, dan kau
harus tahan uji!”, jelasku. Ia hanya terdiam dalam tangisnya dan aku kembali
menenangkannya.
Tak terasa sudah sebulan lebih aku merawatnya. Nicholas
sudah lumayan pulih. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Hingga tiba-tiba
aku merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Nicholas. Aku berusaha menghalau
semua perasaan itu, namun entah mengapa keinginan dagingku tak terkendali. Aku
tak bisa memungkiri bahwa aku menyukainya. Ya, aku menyukai Nicholas! Namun aku
tahu ini akan menjadi sebuah kesalahan besar. Sekuat tenaga ku tahan semua
perasaan ini.
Suatu hari aku dan Nicholas duduk bersama. Ia bertanya
padaku,
“Mengapa kau menjadi
Biarawati, Dicta?”, tanya Nichloas
“Sebenarnya jawabanku
sangat sederhana. Aku hanya ingin memberikan seluruh hidupku untuk Tuhan.”,
jawabku.
“Apa kau bahagia?”,
tanyanya lagi.
“Tentu! Aku amat sangat
bahagia”, ujarku dengan yakin.
“Meskipun kau tidak
dapat membangun suatu hubungan dengan seseorang, kau tetap bahagia?”,
tambahnya.
“Itu sudah menjadi
konsekuensi yang harus ku tanggung”, jawabku.
“Apakah kau pernah
jatuh cinta, Dicta?”
“Tentu aku pernah merasakan
nya. Cinta adalah sesuatu yang tak terlepas dari setiap kehidupan manusia,
Nic”, jawabku sambil menengadah menatap langit.
Seketika Nicholas
mengubah posisi duduknya menghadap kearahku. Ia mengambil napas dalam-dalam.
“Aku menyukai mu Dicta.
Aku jatuh cinta padamu. Jujur aku tak sembarangan menyatakan cinta kepada
seorang wanita.” , ungkap Nicholas.
Mataku membelalak,
otakku seolah berhenti bekerja, lidahku keluh, tubuhku menegang, dan aku hanya
bisa terdiam. Nichloas melanjutkan perkataannya.
“Apakah aku salah
memiliki perasaan ini terhadapmu? Kadang aku bertanya pada Tuhan, mengapa aku
harus jatuh cinta kepadamu? Pada dirimu yang menyandang status Biarawati”, ucap
Nicholas.
Seketika tangisku pun
pecah. Tak ku sangka Nichloas mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Sambil
tersedu-sedu aku berkata,
“Aku juga memiliki
perasaan yang sama terhadapmu, Nic. Ada satu titik dimana aku ingin sekali
mengikuti keinginan dagingku untuk bersamamu. Namun aku tak sanggup menyangkal
komitmen yang sudah ku bangun bersama Tuhan. Hubungan kita tidak akan pernah
berhasil, Nic. Aku harap kau mengerti posisiku saat ini.” ujarku lirih.
Nicholas menghela napas
panjang.
“Aku mengerti Dicta.
Yang terpenting aku sudah memberitahumu tentang perasaanku padamu dan aku juga
sudah tahu bahwa kau memiliki perasaan yang sama terhadapku. Itu sudah
membuatku bahagia, meski kita tidak akan bisa bersama. Ku hormati keputusanmu,
Dicta”, ujar Nicholas dengan senyuman yang mampu menyejukkan hati.
Masa-masa diriku menjadi relawan pun berakhir. Tiba
saatnya aku pulang ke Sumbawa. Sebelum aku berangkat pulang, Nicholas
menemuiku. Ia memberiku sebuah kalung bertuliskan “FAITH”.
“Ambil ini Dicta.
Anggap ini kenang-kenangan dariku karena kau telah mengajarkanku untuk selalu
bersyukur atas apapun yang terjadi dalam hidupku. Ingat selalu akan aku ya”,
ujar Nicholas sambil tersenyum hangat, senyuman yang menunjukkan lekukan lesung
pipi di wajahnya.
“Baiklah. Terima kasih,
Nic. Selamat tinggal”, ujarku
“Selamat tinggal?
Kata-kata macam apa itu? Bisakah kau menggantinya dengan kata ‘Sampai bertemu
lagi?”, pintanya.
Aku tertawa kecil
mendengar apa yang ia katakan.
“Ya, baiklah Nic.
Sampai bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik. Ingatlah selalu bahwa Tuhan
mengasihimu. Lanjutkan hidupmu yang berharga itu, Nic”, ujarku.
“Tentu Dicta. Semoga
Tuhan memberkatimu selalu”, jawab Nicholas masih dengan senyum yang menenangkan
hati.
Aku pun berjalan menuju
mobil yang akan membawaku pulang. Sebelum masuk ke mobil, aku berbalik badan
dan melambaikan tanganku pada Nicholas. Ia pun balas melambai padaku.
Begitulah akhir kisahku
bersamanya yang disaksikan oleh langit Maumere.
Aku tiba di Sumbawa
dengan selamat. Aku membawa banyak kisah yang hanya akan ku simpan dalam lubuk
hatiku yang terdalam, dan juga dalam ingatanku. Aku pun melanjutkan
kehidupanku.
3 Tahun pun berlalu. Suatu pagi saat aku sedang berada
dalam gereja sehabis berdoa, Pastor Lambertus, pemimpin kami, memanggilku.
“Suster Benedicta,
kemarilah. Ada sesuatu yang ingin ku berikan”, ujar Pastor Lambertus.
“Ya, Pastor. Apa yang
ingin anda berikan pada saya?”, tanyaku penasaran.
“Ini ada sebuah
undangan untukmu, suster Benedicta. Tadi ada kurir yang mengantarkannya” ujar
Pastor Lambertus.
“Terimakasih pastor”,
ucapku.
Pastor Lambertus pun
berlalu meninggalkanku yang masih heran dengan sepucuk undangan yang ku genggam
ini. Perlahan kubuka dan kubaca dengan seksama undangan dan surat yang ada
didalamnya. Ternyata itu adalah undangan pernikahan Nicholas bersama wanita
bernama Patricia. Mereka akan melangsungkan pernikahan di Maumere. Dalam
suratnya, Nicholas menceritakan bahwa sesaat setelah aku kembali ke Sumbawa,
nenek Nicholas datang dan membawanya kembali untuk tinggal di London. Nicholas
memulai kehidupannya yang baru, namun ia masih memikirkan ku. Sampai akhirnya
nenek Nicholas mengenalkannya pada Patricia. Mereka pun saling jatuh cinta dan
memutuskan untuk menjalin hubungan dan menikah. Aku sangat bahagia melihat
surat berisi kabar sukacita dari Nicholas.
Di akhir suratnya,
Nicholas menuliskan :
“I’ll Never Forget You, Elizabeth
Benedicta”
Seketika air mata
mengalir dari pelupuk mataku, membasahi pipiku perlahan namun pasti. Air mata
ini bukanlah air mata kesedihan, namun ini adalah air mata kebahagiaan. Aku
bersyukur pada Tuhan karena memberi Nicholas kebahagian dalam kehidupan
barunya. Nicholas pantas mendapatkannya, mengingat banyak hal duka yang telah
ia lewati dalam fase titik terendah hidupnya, sampai akhirnya ia dapat bangkit
dan melanjutkan kehidupannya.
Aku juga berterima
kasih pada Tuhan karena Tuhan sudah mengizinkan aku merasakan bagaimana rasanya
mencintai dan dicintai, walau aku dan Nicholas tak bisa bersama. Pertemuanku
dengan Nicholas dan rasa yang pernah ada antara kami berdua akan selalu aku
kenang untuk mengingat betapa baiknya Tuhan mengizinkan semua itu boleh terjadi
didalam hidupku.
-SELESAI-
Kelompok Diskusi Ilmu Ekonomi
(KODIE FE UNIMED)
Bagusss ...❤
ReplyDeleteSukses terus KODIE pengembangan bakat KODIERS !!