“ Kesedihanku ”
Tik...Tik...Tik... tetesan hujan yang aku rasakan saat butiran airnya menyentuh kulitku. Aku yang sedang berjalan untuk menuju ke tempat pemberhentian angkutan umum,segera dengan lekas aku berlari menuju halte yang tak jauh dari tempatku sebelumnya. Dinginnya udara yang membuat seluruh tubuhku terasa kedinginan di tambah lagi hanya ada aku dan sepasang kekasih di halte itu. Aku melihat mereka bercanda penuh tawa tanpa memperdulikan diriku yang hanya sendiri di situ. Semua hal yang dilakukan sepasang kekasih tersebut membuatku kembali mengingat kejadian yang tepatnya empat tahun yang lalu. Kejadian yang sangat aku sesali seumur hidupku. Aku kehilangan seseorang yang sama sekali tidak aku ketahui perasaanya padaku. Semakin aku melihat sepasang kekasih itu semakin hanyut jugalah aku dalam situasi masalaluku.
Empat tahun yang lalu dimana aku sedang pindah tugas ke daerah Bali, aku sangat suka akan pemandangan yang ada di sana. Sehingga aku suka sekali membawa kamera untuk mengabadikan moment di sana. Ku fokuskan kameraku kepada sesuatu yang menarik untuk ku foto. Saat itu aku sedang berada di pementasan daerah sekitaran Bali. Senyum tipis yang muncul ketika aku melihat salah seorang yang aku sengaja ingin ku potret yang pada saat itu Ia sedang membaca buku yang aku sendiri tak tau buku apa itu. Aku mulai menyukainya dengan segala yang Ia miliki, bisa ku katakan cinta pandangan pertamaku. Aku memotretnya dengan segala gaya yang memang tak ada instruksi dariku. Tapi tiba-tiba “BRUKKK!!!!!” aku terjatuh berbarengan dengan orang yang menyenggol ku dari belakang. “maaf ya maaf… aku gak sengaja “ katanya sambil membantuku untuk berdiri. "Jalan itu hati-hati dong! Kan sakit kalau jatuh" kataku dengan emosi. "Iya maaf ya aku beneran nggak sengaja" katanya sambil memasangkan muka melas. "Hmm iya-iya" balasku singkat. "Kalau boleh tau nama kamu siapa" tanyanya padaku. "Namaku farasyah lebih tepatnya Farasyah Putri Aqilla" kataku dengan sedikit angkuh. "Owh Farasyah ya, kenalin aku Wilson kepanjangannya Wilson Cleo Pratama" katanya dengan menjabat tanganku. "Yaudah ya nggak ada yang penting lagi kan? Aku buru-buru soalnya, bye..." Kataku yang langsung berbalik badan untuk meninggalkan dia. "Hmm..." Helaan nafasnya yang masih terdengar olehku sebelum aku meninggalkannya. Setelah itu, aku beralih kepada seseorang tadi yang belum aku ketahui namanya. Tapi setelah aku melihat kembali tempat yang tadi Ia masih membaca buku ternyata dia sudah menghilang ntah kemana. Seketika itupun moodmu hilang yang kemudian aku memutuskan untuk pulang ke penginapan.
Setiba di penginapan aku langsung beranjak ke kamarku dengan mood yang sudah sedikit berubah dari yang sebelumnya. Dan tepatnya pukul 16.48 aku dengan sedikit girang memasangkan lagu I Know I Loved You Before I Met You – Savage Garden. Lagu ini merupakan lagu yang mewakili perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta seperti aku. Aku terus membayangkan wajah pria yang aku sukai tersebut, "uuhhh handsome banget" aku berbicara sendiri sambil senyum-senyum nggak jelas. Segala pembodohan yang aku lakukan ketika jatuh cinta pandangan pertama.
Esoknya, aku memutuskan untuk mengikutinya kali ini. Aku berfikir mungkin dia akan kembali ke tempat kemarin Ia membaca buku. Aku menunggu sekian lama sampai rasa bosan pun melanda. Tapi sungguh mengagetkanku ketika pria itu menggandeng seorang wanita dengan mesranya. "Miris... sungguh menyedihkan kenapa sih selalu saja ada di posisi suka sama pacar orang!!" Kataku dengan segala rasa kecewa. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu dan pergi menuju cafe terdekat untuk menenangkan diriku. Aku melamun sampai tak menghiraukan pelayan yang datang padaku. Tiba-tiba Cowok yang ku senggol semalam mengejutkanku. “ DARRRR!!!” katanya sambil menepuk pundakku. “ihh… apaan sih gak jelas banget” kataku dengan kesal. “kamu kenapa sih? Kok ngelamun aja. Kangen sama aku ya??” ejeknya padaku.dan kemudian melanjutkan perkataannya lagi “kamu sakit?”. Aku hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dengan berbagai cara Dia terus menghiburku, mulai dari memasangkan muka jeleknya walau menurutku wajahnya masih tetap saja tidak terasa jelek, nyanyi-nyanyi dengan suara fals sambil main gitar yang ternyata gitar itu hasil pinjaman pengamen yang mengamen di cafe tersebut. Lama kelamaan aku pun tidak bisa bisa membohongi kelucuan yang ia berikan. Perlahan-lahan ku munculkan senyumku dan Wilson dengan girangnya mengatakan “HOREEEE…” tanpa rasa malu sedikitpun. Dan baru aku sadari ternyata banyak orang yang melihat tingkah konyolnya tadi, tidak sampai disitu dia berlari ke tengah-tengah cafe sambil menyanyikan lagu dari Virgoun-surat cinta untuk starla. Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu… Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu… Takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu… Kan teramat panjang puisi 'tuk menyuratkan cinta ini… Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia…Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu… Aku pernah berpikir tentang hidupku tanpa ada dirimu… Dapatkah lebih indah dari yang kujalani sampai kini? Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu… Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi… Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia… Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu… Dan telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia… Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu Untukmu…” Dari awal sampai akhir lagu yang Ia nyanyikan membuatku hampir melupakan masalah hatiku walaupun hanya sesaat. Tak lama setelah dia usai menyanyikannya, dia berjalan pelan mengarah padaku. “gimana kamu suka?” tanyanya sambil menarikkan kursi yang berada tepat di depanku. “kamu lucu juga ternyata ya… nekat banget lagian nyanyi di tengah-tengah kantin” balasku dengan sedikit mengeluarkan senyum. “iya dong tapi supaya kamu terhibur hehe…” katanya sambil cekikikan. “oh iya kita kan baru kenal kemarin tapi kok udah sok dekat banget sih ke aku?” tanyaku dengan sedikit curiga padanya. “ya gak apa-apa, aku suka aja ngehibur orang apalagi kalau yang aku hibur cewek cantik kayak kamu hihi...” katanya dengan sedikit godaan. “hmm… ya sudah deh” balasku singkat. Mulai dari saat itu aku dan Wilson pun menjadi sangat dekat sampai pada akhirnya aku sering cerita padanya tentang seseorang yang aku sukai itu.
Bermain gitar sambil menyanyi itu merupakan kegiatan ku akhir-akhir ini. Sampai Wilson pun selalu menjadi teman duetku bernyanyi, sampai beberapa saat aku mulai lupa akan seseorang yang aku sukai itu. Untung saja aku belum mencintainya. Jadi, perasaan kecewaku tidak terlalu dalam. Aku juga melihat perubahan Wilson yang lambat laun mulai menyita sedikit perhatianku, dia semakin menampakkan sikapnya yang menurutku lebih dari sekedar teman. dan di tambah lagi waktu aku sering menceritakan orang yang aku sukai itu kepadanya, ada sedikit perubahan raut wajahnya yang menampakkan kecemburuan. Tapi, aku tidak mau berburuk sangka terhadapnya, aku selalu bersikap selayaknya sebagai teman. Karena yang kurasakan saat ini aku nyaman jika hanya menganggapnya sebagai teman.
Jam menunjukkan pukul 11.34, siang itu aku duduk di dekat pintu Dan di waktu itu aku melihat sosok pria yang sempat aku sukai tersebut membawa wanita ke kamar penginapan yang tak jauh dari penginapanku. Dengan spontanitas air mataku keluar " hmm... emang dasar aku cewek baperan masa gini aja nangis sih, udah tau dia cowok kayak gitu ehh malah di tangisin. Mungkin aku masih memiliki sedikit rasa suka padanya makanya jadi begini, tapi aku salah menyukai orang" kataku sambil memasangkan wajah cemberut yang disertai air mata. aku juga tidak melihat sosok Wilson yang selalu datang menghiburku, ntah kemana sosok yang selalu menjadi penghiburku. Tanpa ku ketahui Wilson sendiri sedang membuatkanku hadiah boneka, yang dimana boneka itu memiliki suaranya tentang perasaan dia padaku. Wilson merencanakan memberikannya lusa setelah dia selesai membuatnya.
Malamnya, aku memutuskan untuk ke rumah Wilson karena aku memang membutuhkan sosok dia untuk berbagi cerita. Sebelum sampai di rumahnya, aku sempat meneleponnya. “halo son, kamu dimana sih?! Kenapa satu harian ngilang” tanyaku dengan sedikit kesal. “iya maaf ya aku gak nemenin kamu hari ini, kenapa? kamu gak apa-apakan?” balasnya dengan penuh kecemasan. “aku butuh kamu tau…” kataku yang dimana saat itu air mataku belum bisa berhenti. “kamu nangis ya?” Tanya lagi dengan nada yang agak sedikit tinggi. “nggak kok, kamu sekarang dimana?” jawabku. “udah gak usah bohong lah syah” ucapnya dengan sedikit kesal. “hiks…hiks.. iya son… aku kecewa sama orang yang aku sukai itu son...” balasku dengan air mata yang bercucuran. “sekarang kamu lagi dimana ini?” tanyanya. “aku lagi di luar” balasku. “oik dah jam berapa ini, kok masih diluar” katanya dengan nada yag sedikit cemas. Dan tanpa pikir panjang aku mengetuk pintu rumahnya Wilson. tok tok tok “ehh tunggu ya syah” katanya. Dan tak lama kemudian dia membukakan pintu rumahnya. Dia sedikit kaget melihatku dan aku langsung memeluknya seerat mungkin sambil menangis.” Son… sakit rasanya di giniin” kataku dengan dekapan yang erat terhadapnya. “syah… tenang yah ada aku disini”. Katanya dengan membalas pelukanku. Aku terpuruk ke dasar pelukkannya. Dan seketika itu perasaanku mulai jatuh, ntah apa yang ada dipikiranku dan yang jelas aku nyaman bersamanya. Dan setelah beberapa jam aku bercerita padanya, Wilson pun mengantarku pulang dengan mobilnya. Namun, boneka yang sudah disiapkannya ternyata sudah di buatnya ke dalam bagasi mobilnya.
Sesampainya di penginapan aku berpamitan pada Wilson “thanks ya son udah mau dengerin keluh kesahku” kataku padanya. “iya syah santai aja, kamu udah mendingan sekarang?” tanyanya. “udah kok tapi mungkin sementara doang, setidaknya udah ada kamu yang nemenin aku” kataku dengan sedikit mengeluarkan senyum. “yaudah bagus deh, kamu masuk gih gak bagus kena angin malam kelamaan” katanya memerintahku untuk segera masuk kedalam penginapan. Entah kenapa tiba-tiba suasananya agak berbeda karena mendung yang di sertai angin datang mengundang rasa gelisah terhadapku, aku sedikit aneh pada sikap Wilson terhadapku. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumahku dan Wilson sendiri masih tetap menungguku sampai benar-benar masuk kepenginapan. Dan sebelum aku menutup pintu, aku sempat melihat Wilson tersenyum padaku.akhirnya aku tutup pintu dan aku langsung masuk ke dalam kamarku. Setelah itu tanpa sepengetahuanku Wilson keluar dari mobilnya dan membukakan bagasinya lalu mengambil boneka yang ia siapkan sebelumnya. Lalu ia meletakkan boneka itu ke depan pintu kamar penginapanku dan meninggalkan beberapa tangkai bunga mawar putih. Kemudian ia memutuskan untuk pulang dengan kondisi cuaca yang pada saat itu ekstrem. Tak jauh setelah ia beranjak pergi dari rumahku, Wilson tak terlalu memperhatikan jalanan dikarenakan hujan yang deras sekali. Namun, tiba-tiba tanpa diketahuinya pohon besar yang tepat berada di pinggiran jalan tumbang lalu menimpa mobil yang ia kendarai tersebut, terdapat kata terakhir yang diucapkannya “aku sayang kamu syah…” kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Karena pada saat itu hujan deras jadi tidak ada satupun orang yang melihat kejadiannya, sampai hingga pagi barulah banyak orang yang berhamburan datang untuk melihat Wilson.
Aku melihat Wilson berdiri tepat di hadapanku dengan kondisi pakaian yang bercucuran darah dan tampak wajahnya sedikit mengeluarkan senyum serta melambaikan tangannya yang perlahan-lahan menjauh dan semakin menjauh. Aku langsung teriak memanggilnya “Wilson! Wilson!” kataku sambil memanggilnya dan ia sama sekali tidak memperdulikan perkataanku dan tak lama ia menghilang. “Wilson jangan pergi” teriakku dan terbangun dari tidurku yang kemudian melihat sekelilingku. “uhh cuman mimpi ternyata” kataku menghela nafas. Karena biasanya aku selalu suka dengan udara pagi, aku memutuskan untuk berjalan ke luar dari kamar. Tiba aku membuka pintu, aku melihat boneka dengan mawar putih dengan kondisi lembab dan kotor akibat hujan yang di sertai angin semalam. “ehh ini boneka dari siapa?” tanyaku heran. “tapi lucu juga sih” lanjutku yang kemudian tak sengaja menekan hidung bonekanya karena memang aku gemes melihatnya. Namun, aku heran karena boneka itu mengeluarkan suara. Lalu aku mendekatkan boneka tersebut ke telingaku dan isinya adalah “syah… aku Wilson orang yang mengagumimu sedangkan kamu mengagumi orang lain. Aku selalu terima cerita kamu mengenai Ardival sampai aku lupa bahwa aku sangat menyanyangimu syah tapi kamu nggak akan pernah tau akan hal itu jika aku tidak memberitahumu lewat ini. Aku memang nggak sesempurna pria yang kamu sukai tapi aku harap kamu bisa nyaman saat denganku. Aku nggak bisa berkata banyak syah yang jelas aku sayang sama kamu walau kamu mungkin hanya menganggapku hanya sebatas teman saja. Aku mau bilang jaga diri baik-baik ya syah jangan terlalu berharap sama Ardival yang aku sendiri disini mengharapkan kamu syah… hehehe ini kejujuranku syah… selamat tinggal bayi kecil… I LOVE YOU” kata-kata yang sangat membuatku kaget dan terharu “ternyata selama ini… Wilson…” kataku yang hanya mengeluarkan beberapa kata. Tiba-tiba aku melihat orang-orang berlarian ke arah jalan raya yang nggak jauh dari rumahku. Dengan cepat dan perasaan bingung aku menanyakan kepada salah seorang dari mereka, “ada apa ya? Kok pada berlarian semua ke situ sih?” tanyaku. Dan mereka pun menjawab “ada kecelakaan karena pohon tumbang”. Aku semakin penasaran dan ikut bersama mereka untuk melihat kejadiannya. Karena banyaknya orang di sertai juga dengan beberapa polisi di situ rasa penasaranku semakin bertambah. Ku putuskan untuk mendekatkan diri pada lokasi yang sudah di beri garis polisi. Perlahan-lahan aku melihat mobilnya yang aku rasa mobil itu tidak asing dan terlintas di pikiranku jika itu mobil yang di kendarain Wilson semalam. Aku semakin cemas dan panik lalu dengan susah payah aku terobos orang-orang yang menghalangiku, semakin dekat aku pada posisi itu semakin tampak jelas juga wajah Wilson yang pucat disertai cucuran darah dimana-mana. “Wilson!!!” teriakku sambil mencoba mendekap tubuhnya. “bangun Son… kamu bilang kamu sayang sama aku kan? Tapi kenapa kamu pergi setelah kamu jujur sama perasaan kamu son!!!” ucapku yang diiringi air mata yang memang tak bisa ku tahan. “kamu jahat son!! Aku udah mulai nyaman sama kamu son!! Tapi kenapa harus gini sih son!! Bangun son!!” teriakku dengan histeris tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarku. Tiba-tiba aku tersadar dari bayanganku di masa lalu, aku melihat sekitarku dan ternyata hujan turun semakin deras saja. Aku tidak bisa menahan air mataku sungguh kesedihan yang amat terdalam."Wilson…. Aku kangen sama kamu" kalimat yang keluar dari mulutku dengan sedikit raut wajahku yang histeris akibat mengingat kejadian yang membuat penyesalanku sampai sekarang.
Untuk mengenangmu aku menuliskan ini “Untuk kamu lelaki terbaikku… aku sangat merindukanmu, kamu yang ada disaat aku membicarakan orang lain kepadamu. Namun, dengan hati yang tetap tegar kamu terus mendengarkan walau perasaan kamu sakit sesakit sakitnya. Aku merupakan orang terbodoh yang nggak pernah bisa ngerti akan perasaan kamu… aku minta maaf ya untuk seseorang yang menyebutku bayi kecilnya… tenang di sana karena aku akan terus mengenangmu selamanya…” teruntuk kamu iconku ( nama panggilan Wilson)
Sekian…