TAK PENTING
KATANYA
Penulis : Sinta Debora Sianipar
“Bulan depan aku wisuda. Kamu datang, ya,” ucap seorang
laki-laki pada gadis yang ada di sampingnya.
“Hah? Oh, iya. Aku dateng kok. Kamu udah bilang ini berpuluh
kali deh, Ga,” jawab gadis itu.
Laki-laki yang di panggil ‘Ga’ itu hanya terkekeh pelan.
“Aku liat, belakangan ini kamu kayak linglung gitu. Ada masalah, Nar?”
Kinara, gadis itu tak menjawab pertanyaan dari Dirga, yang
tak lain adalah kekasihnya. Ia hanya menggandeng tangan Dirga untuk segera
pulang. Sebenarnya, ada banyak hal yang ia pikirkan.
“Nar, ga ada niat kuliah?”
Kinara menatap Dirga sebentar. “Engga,” jawabnya dengan
singkat.
“Kenapa?”
Kinara menghembuskan nafasnya jengah. “Kita udah berapa kali
bahas ini, Ga.”
“Kita hidup di zaman modern, di mana pendidikan itu penting.
Perempuan ga melulu Cuma ngurus rumah tangga. Dia juga butuh pemikiran yang
luas.”
“Kamu juga udah berulang kali bahas itu, Ga,” ucap Kinara
mengingatkan.
“Aku cuma ga mau kamu nanti nyesel, mempung masih ada
waktu.” Dirga kemudian mengecup kening Kinara, lalu melanjutkan perjalanan
mereka.
“Sebenarnya,
itu juga yang lagi aku pikirin, Ga,” batin Kinara.
***
Dirga dan Kinara baru saja tiba di depan rumah Kinara.
Setelah dari kampusnya Dirga, mereka tidak langsung pulang, melainkan singgah
terlebih dahulu untuk mengisi perut mereka.
“Eh, Kinar. Baru pulang, Nar?” tanya tetangga Kinara yang
sangat amat julid.
“Iya, Bu. Habis nemenin Dirga ngurus berkas-berkasnya,” ucap
Kinara yang di susul oleh anggukan Dirga. Memang, kebanyakan tetangganya sudah
mengenal Dirga. Karena laki-laki itu sering berkunjung ke rumahnya Kinara.
Ibu tersebut hanya mangut-mangut. “Kinar ga kerja hari ini?”
“Kebetulan hari ini Kinar dari libur, Bu. Jadi, bisa nemenin
Dirga.”
“Oh gitu. Ya udah deh, semangat kerjanya ya, Nar. Kalau udah
kerja, pendidikan mah ga penting. Kan udah bisa menghasilkan uang sendiri,”
ucap Ibu tersebut sambil mengusap bahu Kinar.
Sementara Kinar, ia hanya mampu tersenyum masam.
“Iya, sekarang mah kerja aja dulu. Nanti kan kalau udah
punya suami, kamu bakal ikut dia. Ga bisa kerja, karena akan ngurus dapur sama
suami kan ya,” sambungnya lagi.
“Iya, Bu. Kinar permisi masuk dulu ya,” pamitnya. Namun, si
ibu tersebut seakan enggan melepaskan Kinara.
“Iya, Kinar. Kamu harus belajar hal-hal tentang rumah
tangga. Emang udah betul banget kamu ini, ga usah kuliah. Tau si Ana yang ada
di gang sebelah? Dia tuh baru aja cerai, karena lebih mentingin pendidikannya.
Kasian ya, masih muda udah jadi janda. Ibu mah yakin, kamu ga akan gitu, kan
kamu ga kuliah.” Kan, julidnya sudah keluar.
Kinara segera menggenggam tangan Dirga. Ia tahu, kekasihnya
sudah sangat marah.
“Perempuan ga selamanya ngurus dapur. Perempuan juga berhak
menggapai cita-citanya. Kinar ga kuliah, bukan karena dia pasrah sama keadaan
nanti. Dia cuma ga mau salah melangkah,” kata Dirga dengan raut menahan amarah.
“Nah, justru karena itu. Daripada salah melangkah, mending
ikuti alur. Pendidikan memang tidak sepenting itu. Pendidikan hanya membuatmu
bingung, langkah dan pilihan mana yang akan kamu ambil. Kinara sudah benar,
dengan bekerja, ia sudah mengikuti alur hidupnya,” ucap Ibu tersebut dengan
tidak mau kalah.
“Apa Ibu kira di pendidikan hanya belajar biar otak pintar?
Tidak. Banyak hal yang di pelajari, dan tentunya berguna untuk masa depan. Ya,
setidaknya tidak seperti anak Ibu, yang tamat sekolah menengah langsung hamil,
dan hanya menunggu suami pulang membawa duit.”
“Ga, udah.” Kinara menetap sendu ke arah Dirga, lagi dan
lagi, Dirga membelanya. Tidak hanya sekali, karena tetangga Kinara itu banyak
yang julid.
“Jaga ya omongan kamu!”
“Ibu yang seharusnya menjaga omongan! Tidak asal menjengkali
kehidupan seseorang.”
“Bu, maaf ya. Kinar sama Dirga masih ada yang mau di
kerjain. Maaf ya sekali lagi,Bu. Kita pamit masuk dulu.” Kinara lalu menarik
tangan Dirga dan menuntunnya untuk duduk di kursi teras.
“Kamu harusnya ngelawan, dia seenaknya loh menjengkali kamu.
Jangan karena anaknya ga kuliah, dia harus buat anak orang lain ga kuliah.
Masih ada aja ibu-ibu yang kayak begitu, heran.” Dirga masih saja mengomel
untuk memarahi Kinara dan tetangga julidnya tadi.
“Selagi aku ga masukin hati omongan dia, semua akan
baik-baik aja, Ga,” ucap Kinara menenangkan.
***
Saat ini, Kinara sedang berada di bawah pohon, sambil
menunggu Dirga selesai foto bersama. Dirga baru saja wisuda, pasti ia ingin
mengabadikan momen ini, maka dari itu, Kinara hanya menunggu di bawah pohon.
Ia menatap sekeliling, ada banyak raut bahagia yang Kinara
lihat. Tampak tak ada beban. Padahal, ada banyak perjuangan yang harus mereka
lewati untuk dapat mengenakan toga itu. Kinara tahu, karena ia selalu menemani
Dirga. Ia tahu, betapa sulitnya jenjang perkuliahan.
Itu juga alasan mengapa ia tidak ingin kuliah. Tujuan orang
lain kuliah, agar mendapat gelar bukan? Agar ketika mencari pekerjaan, mereka
dapat mempromosikan gelar mereka, dan mereka dapat di terima.
Kinara sudah memiliki pekerjaan, yang ia dapatkan ketika
lulus SMA. Ia bahagia di sana. Lantas, apalagi yang Kinara butuhkan? Apa ia
masih membutuhkan proses belajar mengajar lagi? Tapi, Kinara juga ingin melihat
orang tuanya yang bangga, ketika melihat Kinar memakai toga, lengkap dengan
seragam wisuda.
“Heh! melamun aja daritadi. Sampai aku di sini pun, kamu ga
sadar,” ucap seorang laki-laki yang saat ini masih mengenakan seragam wisuda,
lengkap dengan toganya.
“Eh, kamu kok udah di sini?” tanya gadis itu. Ia
memperhatikan sekeliling. Ternyata orang yang ada di depannya ini sudah selesai
melakukan acara foto bersama.
“Kan udah selesai. Aku di sini juga udah 5 menit,” jawabnya
acuh.
“Selama itu?” tanya Kinara. Ia tak menyangka, akan selama
itu ia melamun.
“Iya, dan selama itu kamu melamun. Apa sih yang kamu
pikirin? Coba deh cerita.” Dirga memposisikan dirinya di depan Kinara, lalu
mengusap kening gadis itu yang tampak berkerut.
“Kamu kenapa mau kuliah? Tanpa kuliah pun, kamu tetap akan lanjutin
bisnis keluarga,” ucapnya. Akhirnya, ia dapat mengungkapkan isi pikirannya.
Dirga tersenyum.“Aku udah pernah bilang, ada hal yang ga
bisa kamu jumpai di luar sana, dan hanya kamu dapatkan di jenjang perkuliahan.”
“Apa?” tanyanya penasaran.
“Pengalaman, relasi, disiplin yang lebih, mengerjakan
hal-hal baru sesuai tingkatanmu, kamu juga dapat pengalaman berorganisasi, di
mana itu bisa kamu jadiin bekal masa depan.”
“Bekal untuk apa?”
“Ya bekal. Ga selamanya temanmu sekarang, akan menjadi
temanmu nantinya. Mereka juga punya kehidupan pribadi, dan kamu ga bisa maksa
mereka buat ada di sisimu selamanya. Kamu juga perlu relasi, agar penglihatanmu
meluas, tidak seputar tetangga toxic
mu saja.”
Dirga menjeda ucapannya ketika melihat Kinara termenung. “ Kamu
juga akan di latih hal-hal baru. Mendapatkan pengalaman baru. Memang lelah,
kamu sudah menyaksikannya sendiri. Namun, saat masa ini lah kamu dapat
menikmati masa remajamu. Masa di mana, kamu mencari hal-hal yang kamu sukai.”
“Dan kamu tau apa yang paling bahagia?” tanya Dirga
Kinara hanya melihat Dirga, tanpa menjawab. “Melihat orang
tuamu tersenyum, saat kamu mengenakan toga, dan namamu sudah bergelar. Kamu
lihat orang di sini? Ga ada yang pasang raut sedih. Itu karena mereka bahagia. Mungkin,
orang tua kamu ga maksa, karena mereka ga mau kamu tertekan.”
“Pendidikan memang terkesan sepele. Memang tak selamanya
yang berpendidikan itu berhasil, tapi setidaknya, kamu sudah ada bekal, dan
tinggal mengolahnya saja. Pendidikan memang sepeting itu.”
Kinara menatap Dirga, matanya sudah berkaca-kaca. Ia jadi
memikirkan orang tuanya. Selama ini, orang tuanya selalu menyuruhnya kuliah,
tapi ia selalu menolak. Ia tak berpikir, ada banyak hal yang ia dapatkan, jika
ia kuliah.
“Tapi, aku ga bisa nyoba di Universitas Negeri,” ucap
Kinara. Ia baru menyadari, jika ia sudah tak dapat mencoba jika di universitas
negeri.
Dirga mengusap puncak kepala Kinara. “Ga penting mau di
swasta atau negeri. Yang penting niat kamu.”
Kinara memeluk Dirga dengan erat. “Makasih udah
menyadarkanku. Tahun depan, temani aku daftar, ya,” pintanya.
“Pasti!”
No comments:
Post a Comment