Tuesday, June 8, 2021

CERPEN - TAK PENTING KATANYA

 

TAK PENTING KATANYA

Penulis : Sinta Debora Sianipar

“Bulan depan aku wisuda. Kamu datang, ya,” ucap seorang laki-laki pada gadis yang ada di sampingnya.

“Hah? Oh, iya. Aku dateng kok. Kamu udah bilang ini berpuluh kali deh, Ga,” jawab gadis itu.

Laki-laki yang di panggil ‘Ga’ itu hanya terkekeh pelan. “Aku liat, belakangan ini kamu kayak linglung gitu. Ada masalah, Nar?”

Kinara, gadis itu tak menjawab pertanyaan dari Dirga, yang tak lain adalah kekasihnya. Ia hanya menggandeng tangan Dirga untuk segera pulang. Sebenarnya, ada banyak hal yang ia pikirkan.

“Nar, ga ada niat kuliah?”

Kinara menatap Dirga sebentar. “Engga,” jawabnya dengan singkat.

“Kenapa?”

Kinara menghembuskan nafasnya jengah. “Kita udah berapa kali bahas ini, Ga.”

“Kita hidup di zaman modern, di mana pendidikan itu penting. Perempuan ga melulu Cuma ngurus rumah tangga. Dia juga butuh pemikiran yang luas.”

“Kamu juga udah berulang kali bahas itu, Ga,” ucap Kinara mengingatkan.

“Aku cuma ga mau kamu nanti nyesel, mempung masih ada waktu.” Dirga kemudian mengecup kening Kinara, lalu melanjutkan perjalanan mereka.

“Sebenarnya, itu juga yang lagi aku pikirin, Ga,” batin Kinara.

***

Dirga dan Kinara baru saja tiba di depan rumah Kinara. Setelah dari kampusnya Dirga, mereka tidak langsung pulang, melainkan singgah terlebih dahulu untuk mengisi perut mereka.

“Eh, Kinar. Baru pulang, Nar?” tanya tetangga Kinara yang sangat amat julid.

“Iya, Bu. Habis nemenin Dirga ngurus berkas-berkasnya,” ucap Kinara yang di susul oleh anggukan Dirga. Memang, kebanyakan tetangganya sudah mengenal Dirga. Karena laki-laki itu sering berkunjung ke rumahnya Kinara.

Ibu tersebut hanya mangut-mangut. “Kinar ga kerja hari ini?”

“Kebetulan hari ini Kinar dari libur, Bu. Jadi, bisa nemenin Dirga.”

“Oh gitu. Ya udah deh, semangat kerjanya ya, Nar. Kalau udah kerja, pendidikan mah ga penting. Kan udah bisa menghasilkan uang sendiri,” ucap Ibu tersebut sambil mengusap bahu Kinar.

Sementara Kinar, ia hanya mampu tersenyum masam.

“Iya, sekarang mah kerja aja dulu. Nanti kan kalau udah punya suami, kamu bakal ikut dia. Ga bisa kerja, karena akan ngurus dapur sama suami kan ya,” sambungnya lagi.

“Iya, Bu. Kinar permisi masuk dulu ya,” pamitnya. Namun, si ibu tersebut seakan enggan melepaskan Kinara.

“Iya, Kinar. Kamu harus belajar hal-hal tentang rumah tangga. Emang udah betul banget kamu ini, ga usah kuliah. Tau si Ana yang ada di gang sebelah? Dia tuh baru aja cerai, karena lebih mentingin pendidikannya. Kasian ya, masih muda udah jadi janda. Ibu mah yakin, kamu ga akan gitu, kan kamu ga kuliah.” Kan, julidnya sudah keluar.

Kinara segera menggenggam tangan Dirga. Ia tahu, kekasihnya sudah sangat marah.

“Perempuan ga selamanya ngurus dapur. Perempuan juga berhak menggapai cita-citanya. Kinar ga kuliah, bukan karena dia pasrah sama keadaan nanti. Dia cuma ga mau salah melangkah,” kata Dirga dengan raut menahan amarah.

“Nah, justru karena itu. Daripada salah melangkah, mending ikuti alur. Pendidikan memang tidak sepenting itu. Pendidikan hanya membuatmu bingung, langkah dan pilihan mana yang akan kamu ambil. Kinara sudah benar, dengan bekerja, ia sudah mengikuti alur hidupnya,” ucap Ibu tersebut dengan tidak mau kalah.

“Apa Ibu kira di pendidikan hanya belajar biar otak pintar? Tidak. Banyak hal yang di pelajari, dan tentunya berguna untuk masa depan. Ya, setidaknya tidak seperti anak Ibu, yang tamat sekolah menengah langsung hamil, dan hanya menunggu suami pulang membawa duit.”

“Ga, udah.” Kinara menetap sendu ke arah Dirga, lagi dan lagi, Dirga membelanya. Tidak hanya sekali, karena tetangga Kinara itu banyak yang julid.

“Jaga ya omongan kamu!”

“Ibu yang seharusnya menjaga omongan! Tidak asal menjengkali kehidupan seseorang.”

“Bu, maaf ya. Kinar sama Dirga masih ada yang mau di kerjain. Maaf ya sekali lagi,Bu. Kita pamit masuk dulu.” Kinara lalu menarik tangan Dirga dan menuntunnya untuk duduk di kursi teras.

“Kamu harusnya ngelawan, dia seenaknya loh menjengkali kamu. Jangan karena anaknya ga kuliah, dia harus buat anak orang lain ga kuliah. Masih ada aja ibu-ibu yang kayak begitu, heran.” Dirga masih saja mengomel untuk memarahi Kinara dan tetangga julidnya tadi.

“Selagi aku ga masukin hati omongan dia, semua akan baik-baik aja, Ga,” ucap Kinara menenangkan.

***

Saat ini, Kinara sedang berada di bawah pohon, sambil menunggu Dirga selesai foto bersama. Dirga baru saja wisuda, pasti ia ingin mengabadikan momen ini, maka dari itu, Kinara hanya menunggu di bawah pohon.

Ia menatap sekeliling, ada banyak raut bahagia yang Kinara lihat. Tampak tak ada beban. Padahal, ada banyak perjuangan yang harus mereka lewati untuk dapat mengenakan toga itu. Kinara tahu, karena ia selalu menemani Dirga. Ia tahu, betapa sulitnya jenjang perkuliahan.

Itu juga alasan mengapa ia tidak ingin kuliah. Tujuan orang lain kuliah, agar mendapat gelar bukan? Agar ketika mencari pekerjaan, mereka dapat mempromosikan gelar mereka, dan mereka dapat di terima.

Kinara sudah memiliki pekerjaan, yang ia dapatkan ketika lulus SMA. Ia bahagia di sana. Lantas, apalagi yang Kinara butuhkan? Apa ia masih membutuhkan proses belajar mengajar lagi? Tapi, Kinara juga ingin melihat orang tuanya yang bangga, ketika melihat Kinar memakai toga, lengkap dengan seragam wisuda.

“Heh! melamun aja daritadi. Sampai aku di sini pun, kamu ga sadar,” ucap seorang laki-laki yang saat ini masih mengenakan seragam wisuda, lengkap dengan toganya.

“Eh, kamu kok udah di sini?” tanya gadis itu. Ia memperhatikan sekeliling. Ternyata orang yang ada di depannya ini sudah selesai melakukan acara foto bersama.

“Kan udah selesai. Aku di sini juga udah 5 menit,” jawabnya acuh.

“Selama itu?” tanya Kinara. Ia tak menyangka, akan selama itu ia melamun.

“Iya, dan selama itu kamu melamun. Apa sih yang kamu pikirin? Coba deh cerita.” Dirga memposisikan dirinya di depan Kinara, lalu mengusap kening gadis itu yang tampak berkerut.

“Kamu kenapa mau kuliah? Tanpa kuliah pun, kamu tetap akan lanjutin bisnis keluarga,” ucapnya. Akhirnya, ia dapat mengungkapkan isi pikirannya.

Dirga tersenyum.“Aku udah pernah bilang, ada hal yang ga bisa kamu jumpai di luar sana, dan hanya kamu dapatkan di jenjang perkuliahan.”

“Apa?” tanyanya penasaran.

“Pengalaman, relasi, disiplin yang lebih, mengerjakan hal-hal baru sesuai tingkatanmu, kamu juga dapat pengalaman berorganisasi, di mana itu bisa kamu jadiin bekal masa depan.”

“Bekal untuk apa?”

“Ya bekal. Ga selamanya temanmu sekarang, akan menjadi temanmu nantinya. Mereka juga punya kehidupan pribadi, dan kamu ga bisa maksa mereka buat ada di sisimu selamanya. Kamu juga perlu relasi, agar penglihatanmu meluas, tidak seputar tetangga toxic mu saja.”

Dirga menjeda ucapannya ketika melihat Kinara termenung. “ Kamu juga akan di latih hal-hal baru. Mendapatkan pengalaman baru. Memang lelah, kamu sudah menyaksikannya sendiri. Namun, saat masa ini lah kamu dapat menikmati masa remajamu. Masa di mana, kamu mencari hal-hal yang kamu sukai.”

“Dan kamu tau apa yang paling bahagia?” tanya Dirga

Kinara hanya melihat Dirga, tanpa menjawab. “Melihat orang tuamu tersenyum, saat kamu mengenakan toga, dan namamu sudah bergelar. Kamu lihat orang di sini? Ga ada yang pasang raut sedih. Itu karena mereka bahagia. Mungkin, orang tua kamu ga maksa, karena mereka ga mau kamu tertekan.”

“Pendidikan memang terkesan sepele. Memang tak selamanya yang berpendidikan itu berhasil, tapi setidaknya, kamu sudah ada bekal, dan tinggal mengolahnya saja. Pendidikan memang sepeting itu.”

Kinara menatap Dirga, matanya sudah berkaca-kaca. Ia jadi memikirkan orang tuanya. Selama ini, orang tuanya selalu menyuruhnya kuliah, tapi ia selalu menolak. Ia tak berpikir, ada banyak hal yang ia dapatkan, jika ia kuliah.

“Tapi, aku ga bisa nyoba di Universitas Negeri,” ucap Kinara. Ia baru menyadari, jika ia sudah tak dapat mencoba jika di universitas negeri.

Dirga mengusap puncak kepala Kinara. “Ga penting mau di swasta atau negeri. Yang penting niat kamu.”

Kinara memeluk Dirga dengan erat. “Makasih udah menyadarkanku. Tahun depan, temani aku daftar, ya,” pintanya.

“Pasti!”

No comments:

Post a Comment