ADA
CINTA DIKAMPUS HIJAU
By: ZULKARNAEN
Namaku Zacky Zulkifli Hasibuan, aku siswa kelas 12 di SMK
yang bisa dibilang tidak favorite dikotaku. Hari-hari yang terasa biasa saja
terus aku lalui, kadang suka mengeluh dengan keadaan. Ya namanya juga manusia.
Setiap hari aku diantar bapak ke sekolah, kadang aku naik motor, motor kakak
aku sih. Hingga..
”Ki, nanti kamu kuliah
atau kerja?” tanya Indah padaku, Indah salah satu teman aku, bisa dibilang
sahabat gitu deh
”Ya..kita liat aja deh
ndah, gimana rencana tuhan”, jawabku sambil bersandar lesu di kursi guru, ya
aku memang suka duduk di kursi guru, ada bantalannya,hehe
“Halahh, jangan bohong
kamu, tau-tau udah kuliah aja”, lanjut Indah
“Kuliah apanya, liat
kondisi keuangan juga lah ndah, paling nanti aku kerja, kalau ada loker gitu
beritahu ya ndah”, jawabku
“Hehehehe ya udah deh, in shaa Allah”, jawab Indah.
Teng,teng,tengtengtengteng!!!!(suara
bel berbunyi, ya sekolah kami bel nya masih tradisional,haha)
Bel
masuk pun berbunyi, pak Ali guru mata
pelajaran produktif kami pun masuk, ya dia guru yang baik dan interaktif
orangnya.
”Oh
ya anak-anak, kalau kalian ada keinginan untuk kuliah daftar aja SNMPTN siapa
tau lulus, kalau nggak lulus masih ada tuh SBMPTN”, seru pak Ali
”Iyaaa
paaakk”, jawab kami cepat
“Wuiihh
enak juga itu bisa lulus PTN tanpa testing”,
sambung Putri Hasibuan (ya marga kami sama, dia bisa dibilang ito ku atau aku juga manggil dia adik).
“Enak
sih enak Put, tapi kan liat nilai rapot kita juga, dan akreditasi sekolah
kita”, sahut Indah
“Entah
tuh Putri, sok kali mau lulus SNMPTN”, seru Siti sambil memainkan bibirnya
seolah mengolok-olok Putri
“Biarlah,
daripada kau gak ada usaha”, sahut Putri
“Udah-udah
nanti berkelahi”, ucapku sambil melipat kedua tanganku diatas meja dan
meletakkan dagu ku diatasnya
“Jadi,
kalau mau daftar SNMPTN ke Tata Usaha aja ya anak-anak, nanti diberitahukan
cara-caranya”, ucap pak Ali
“Iyaa
paakk”, jawab kami serentak lagi.
Begitulah hari-hari ku berlalu di
sekolah, aku memang siswa yang tidak bisa apa-apa termasuk olahraga, dari SD
sampai sekarang aku tidak suka pelajaran olahraga. Apalagi guru olahraganya gak
beres semua. Dari yang tua hingga yang ”gatal”. Gak ada jago-jagonya lah aku
dibidang olahraga. Makanya badan aku kurus seperti tidak diberi makan. Tapi
syukurnya aku selalu juara pertama disekolahku, Sekolah Dasar,hehehe.
Begitulah
aku, saat dirumah bukannya belajar malah nonton TV, yang ditonton bukan berita
atau pertandingan sepak bola, tapi menonton Spongebob, Doraemon, bahkan
sinetron Azab. Yang gak ada masuk akalnya sama sekali.
Singkat
cerita, aku pun mendaftar SNMPTN, dan memang tidak ada berharap lulus PTN,
tetapi tuhan berkata lain, aku lulus di salah satu universitas ternama di kota
Medan, ya kampus hijau dengan banyak pepohonan rindang, dan ada DPR di situ,
bukan Dewan Perwakilan Rakyat, tapi Dibawah Pohon Rindang,hehehe iya kali
disitu demonya. Banyak teman-teman ku yang memberi selamat padaku, aku sih
biasa aja, karena ku pikir mereka hanya manis dimulut saja.
Hingga
masa itu pun tiba, kampus kami pun mengadakan PAMB (Pembekalan Awal Mahasiswa
Baru), kami disuruh pakai baju putih hitam, memakai topi sesuai fakultas, badge name dan lain sebagainnya, seru
sih. Hingga ia pun tiba..
GGGGDDBBRRUKKK!!
“E
eh adu duh, ma maaf ya, aku gak sengaja, aku jalan sambil main handphone”ucapku sambil membersihkan
noda di celanaku.
“Oh
iya, gak papa kok”, jawabnya sambil mengambil topinya yang terjatuh.
“Ternyata
topinya berwarna abu-abu, ya sama seperti topi ku, artinya kami satu fakultas
dong”(perkataan dalam hatiku)
Gadis
itu pun bangkit dan menatap wajahku, matanya yang indah dan bersinar, bibirnya
yang merona bak Lisa Blackpink, serta alis yang tebal, tapi sayang hidungnya
pesek. Aku terdiam dan tertegun memperhatikan wajah gadis itu, mungkin air
liurku pun sudah keluar.
“Hello,
maaf bang”, ucapnya sambil melambaikan tangan ke mukaku.
“E
ehh ma maaf ya kak, tadi saya keingat cucian kotor dua ember dirumah, makanya
jadi bengong”, jawabku sambil tersipu malu.
”Ah
yang benar bang,hmm”, sambungnya sambil tertawa kecil dan tersenyum.
“Uuuuuuuuunnnnccchhhh
dunia ini rasaku mengecil, makin kecil dan makin kecil, hingga hanya muat untuk
kami berdua”(perkataanku dalam hati)
“Oh iya namaku Zacky Zulkifli, panggil Ki aja,
jangan Zul , itu nama bapak aku”, tegasku duluan.
“Hehehe
oke-oke, jurusan apa ki?”tanyanya.
“Aku
jurusan Manajemen, Eh nama kamu siapa?”, tanyaku.
“Oh
iya, namaku…”,belum sempat ia menjawab
Tengneng,neng
nengg..diberitahukan kepada seluruh
mahasiswa/i baru Universitas Negeri Medan untuk kembali ke gedung serba guna
untuk melanjutkan acara PAMB, terima kasih.
“Eh
udah disuruh balik tuh, aku duluan ya”, ujarnya sambil berlari meninggalkanku
“Tunggu
dulu,heiiii aku belum tau nama kamu!!”, jeritku, sambil ingin mengejar, tapi
tiba-tiba kakiku keram.
Aku
pun terjatuh ke tanah, sambil merintih, aku melihat ada sebuah sapu tangan
tepat didepan ku. Aku pun mengambil sapu tangan itu, aku yakin itu milik gadis
tadi. Aku pun berdiam hingga keram nya hilang dan aku kembali ke gedung serba
guna. Mengikuti serangkaian acara yang panjang, ada nyanyi-nyanyi, joget-joget
juga ada. Hingga acara selesai, aku masih belum melihat gadis itu lagi. Aku pun
pulang kerumah dengan menaiki angkot.
Pembelajaran
diperkuliahan pun aktif, tidak ada waktu bermain dan menonton TV seperti dulu
lagi. Suatu pagi, aku berangkat kuliah, kuliah siang, tetapi aku datang pagi.
Duduk-duduk di taman baca, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada gadis yang
sedang menangis di ujung bangku, aku pun menghampirinya.
“Maaf,
ini”, ucapku sambil memberikan sapu tangan, walau bukan sapu tanganku
Ia
meraih sapu tangan itu, dan langsung memelukku, aku pun terdiam kaku, tidak tau
ingin berbuat apa, untung saat itu masih sepi, jadi tidak ada yang melihat.
“Maaf..mmm”,
ucapku sambil menghindar
“Maaf
ya, aku gak tau mau meluk siapa, dan mau cerita ke siapa” ucapnya sambil
mengangkat kepalanya, ternyata dia gadis yang kemarin.
“Kamu..yang,
yang waktu itu kan”, jelasku
“I
iya, aku aku Ririn Hermawan, prodi manajemen, ya kita memang satu jurusan, cuma
beda kelas”, jelasnya
“Oooh,
jadi ngomong-ngomong kamu kenapa menangis?”, tanya ku serius
“Itu..
a aa aku, aku…”, jawabnya sambil tersedu-sedu
“Gak
papa kok, cerita aja sama aku, siapa tau aku bisa bantu”, ujarku
“Waktu
itu, sepulang dari PAMB, kepalaku sakit banget, sakit sekali, hingga
pandanganku pun sedikit kabur, aku pun pergi ke dokter dengan menaiki Grab,
dokter bilang aku terkena kanker otak stadium akhir, aku pulang kerumah dan
menangis sejadi-jadinya, aku takut menelepon orang tua ku, takut membuat mereka
cemas..”,belum sempat ia selesai bicara
“Kamu
harus beritahu orang tua kamu Rin, ini bukan sakit biasa”, potong ku
“Kamu
gak akan ngerti Ki, gak akan pernah ngerti, orang tua aku udah lama pisah Ki,
dan kini ayah aku sakit-sakitan, dan ibu aku, ibu aku udah nikah lagi ki, dan
aku gak tau alamatnya sekarang”, tegasnya sambil menangis
Aku
pun terdiam dan tanpa terasa air mataku pun ikut mengalir, bisa dibilang aku
orang yang tegar untuk hal-hal yang sedih, tapi entah mengapa kali ini air mata
ini seperti mengalir begitu saja.
Tanpa
terasa waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB, waktunya aku masuk kelas.
“mmm
Rin, aku izin ke kelas dulu ya, kamu gak papa aku tinggal?” tanya ku pada Ririn
yang hanya tertunduk dan diam
Ia
mengangkat kepalanya dan memandangku dengan pandangan yang kosong dan
menanggukkan kepalanya serta tersenyum tipis kepadaku.
“Iya,
gak apa-apa kok, terima kasih ya Ki, atas perhatiannya, selamat tinggal ki”,
ujar Ririn dengan mata yang sayu, membuat aku jadi cemas
“Ih
apaan sih Rin, kok kamu ngomong gitu, nanti aku balik lagi kok, kalau nggak
besok-besokkan kita bisa jumpa lagi, pergi dulu ya”, ujarku sambil berjalan
menuju kelas.
Sesampainya
dikelas, dengan nomor 178.2.21, kelas yang nyaman menurutku, tapi tidak dengan
orang-orang didalamnya. Aku pun masuk kelas, dan apa yang kulihat, dosen kami
tidak hadir, dan para mahasiswa sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang
mengerjakan tugas, ada yang joget-joget tik-tok yang lagi heboh sekarang “Entah
apa yang merasukimu” hmmm pusing kepala ku dengar lagu itu.
Aku hanya terdiam dan memikirkan
keadaan Ririn, apa dia baik-baik saja atau malah sebaliknya. Aku sempat
berpikir kenapa tuhan lakuin ini padaku, baru saja aku menemukan orang yang ku
taksir, tapi malah jadi begini. Karena tidak ada dosen, kami pun pulang. Aku
berlari menuju taman baca, melihat apakah Ririn masih berada disana. Tapi aku
tak menemukan ia disana. Aku pun kembali kerumah, dan istirahat.
Keesokan
paginya, seperti biasanya aku pergi ke kampus, hari-hari berlalu. Hingga kini,
sudah satu bulan sejak aku terakhir bertemu dengan Ririn, aku tak pernah lagi
berjumpa dengannya, mungkin karena ia sibuk dengan tugasnya, pikirku. Hingga..
“Ki,
kamu tau gak Ririn anak manajemen C?”, tanya Ardi
“Taulah,
emang kenapa di?”, tanyaku balik
“Kasian
banget ya dia, baru juga masuk kuliah”, ujarnya
“Hah,
maksudmu? Apa di? Ngomong yang jelas dong”, tegasku dengan nada tinggi
“Ki,
kamu emang gak tau apa-apa, atau gimana?”, tanyanya lagi yang membuat aku
semakin bingung
“Gak
tau apa? Emangnya kenapa? Ada apa dengan Ririn?!” tegasku kembali
“Ki,
hari ini tuh satu bulan kematian Ririn ki”, jawabnya
“Hah,hah
ngomong apa sih kamu di, haha ngaco kamu”, jawabku
“Terserah
kamu mau percaya atau nggak Ki, tapi yang jelas kamu gak ada kan jumpa atau
melihat dia sebulan terakhir ini”, jawabnya
Aku
hanya tertegun dan terdiam, tanpa terasa air mataku jatuh, aku menjerit
sejadi-jadinya. Hingga tak menghiraukan mahasiswa/i yang berada disekitar kami.
“Di,
kamu tau dimana makam Ririn?atau kostan dia?”, tanyaku
“Kalau
makamnya aku kurang tau Ki, kalau kostannya aku tau, karena pacar aku satu kost
dengannya.
Ardi
pun memberikan alamat kost Ririn dan aku pun segera menuju kostannya dengan
mengendarai motor Ardi. Sesampainya di kost tersebut, aku pun berlari dan
segera mengetuk pintu kost. Keluarlah sosok wanita tua, mungkin itu ibu
kostnya. Aku pun disilahkan masuk, kami pun cerita panjang lebar tentang
kedatangan Ririn dan penyakitnya. Ibu kost masuk ke kamarnya dan membawa
sepucuk surat.
“Nak,
Ririn menitipkan ini pada ibu, dia bilang berikan surat ini pada pria yang
kurus dan bertahi lalat di wajahnya”, ujar ibu itu sambil memperhatikan wajahku
“I
ini a apa bu?”, tanyaku serius
“Ibu
juga tidak tau, kamu bacaa sendiri aja ya”, jawab ibu tersebut.
Aku
pun membuka surat itu dan membacanya “Untuk
kamu, kamu yang pertama ku kenal, kamu yang membuat aku tersipu malu, kamu yang
dapat membuat aku riang, kamu yang dapat meneduhkan hatiku. Aku berterima kasih
padamu, terima kasih ya sudah menjadi sahabat aku, walaupun gak lama, aku
senang banget bisa jumpa dengan kamu, oh iya, waktu pertama jumpa itu aku
sengaja jatuhin sapu tangan aku dan gak nyebutin nama aku, biar kamu nya
penasaran, intinya kamu jaga diri baik-baik ya, jangan cemberut mulu, banyakin
senyum, mungkin saat kamu baca surat ini, aku udah gak ada didunia ini, aku
udah disurga, aku akan menunggu kamu kok, walaupun kita tidak bisa bersama
didunia, kuharap kita dapat bersatu disurga, dari Ririn Hermawan”.
Aku
pun menangis sejadi-jadinya, dan menyesali kejadian itu, mengapa aku harus
meninggalkan Ririn, ternyata itu adalah saat-saat terakhir Ririn berada
didunia. Aku merasa bersalah. Aku pun pulang kerumah dengan membawa surat
tersebut. Rasa bersalah itu terus menghantui ku, hingga aku melihat wajah Ririn
yang pucat dan mata yang memerah. Aku menjerit sejadi-jadinya dan berlari ke
dapur dan menambil sebilah pisau dan menghunuskan pisau itu ke perutku, hingga
tubuhku tumbang dengan bersimba darah. Seketika pandanganku gelap gulita,
hingga aku terbangun, aku berada disebuah kamar rumah sakit, aku menoleh ke
kanan dan melihat sosok wanita yang berpakaian serba putih. Tiba-tiba wanita
itu menoleh kearahku dan tersenyum.
”Ririn”,
ujarku dengan suara lirih.
TAMAT
IDENTITAS
PENULIS
Nama : ZULKARNAEN
Prodi : MANAJEMEN
Stambuk : 2019
Kategori : Cerpen
Kakak Asuh : VOKASSO ELVISSAPM SIMANUNGKALIT
No comments:
Post a Comment