Thursday, January 2, 2020

ADA CINTA DIKAMPUS HIJAU - CERPEN


ADA CINTA DIKAMPUS HIJAU
By: ZULKARNAEN

            Namaku Zacky Zulkifli Hasibuan, aku siswa kelas 12 di SMK yang bisa dibilang tidak favorite dikotaku. Hari-hari yang terasa biasa saja terus aku lalui, kadang suka mengeluh dengan keadaan. Ya namanya juga manusia. Setiap hari aku diantar bapak ke sekolah, kadang aku naik motor, motor kakak aku sih. Hingga..
”Ki, nanti kamu kuliah atau kerja?” tanya Indah padaku, Indah salah satu teman aku, bisa dibilang sahabat gitu deh
”Ya..kita liat aja deh ndah, gimana rencana tuhan”, jawabku sambil bersandar lesu di kursi guru, ya aku memang suka duduk di kursi guru, ada bantalannya,hehe
“Halahh, jangan bohong kamu, tau-tau udah kuliah aja”, lanjut Indah
“Kuliah apanya, liat kondisi keuangan juga lah ndah, paling nanti aku kerja, kalau ada loker gitu beritahu ya ndah”, jawabku
“Hehehehe ya udah deh, in shaa Allah”, jawab Indah.
Teng,teng,tengtengtengteng!!!!(suara bel berbunyi, ya sekolah kami bel nya masih tradisional,haha)
Bel masuk pun  berbunyi, pak Ali guru mata pelajaran produktif kami pun masuk, ya dia guru yang baik dan interaktif orangnya.
”Oh ya anak-anak, kalau kalian ada keinginan untuk kuliah daftar aja SNMPTN siapa tau lulus, kalau nggak lulus masih ada tuh SBMPTN”, seru pak Ali
”Iyaaa paaakk”, jawab kami cepat
“Wuiihh enak juga itu bisa lulus PTN tanpa testing”, sambung Putri Hasibuan (ya marga kami sama, dia bisa dibilang ito ku atau aku juga manggil dia adik).
“Enak sih enak Put, tapi kan liat nilai rapot kita juga, dan akreditasi sekolah kita”, sahut Indah
“Entah tuh Putri, sok kali mau lulus SNMPTN”, seru Siti sambil memainkan bibirnya seolah mengolok-olok Putri
“Biarlah, daripada kau gak ada usaha”, sahut Putri
“Udah-udah nanti berkelahi”, ucapku sambil melipat kedua tanganku diatas meja dan meletakkan dagu ku diatasnya
“Jadi, kalau mau daftar SNMPTN ke Tata Usaha aja ya anak-anak, nanti diberitahukan cara-caranya”, ucap pak Ali
“Iyaa paakk”, jawab kami serentak lagi.
            Begitulah hari-hari ku berlalu di sekolah, aku memang siswa yang tidak bisa apa-apa termasuk olahraga, dari SD sampai sekarang aku tidak suka pelajaran olahraga. Apalagi guru olahraganya gak beres semua. Dari yang tua hingga yang ”gatal”. Gak ada jago-jagonya lah aku dibidang olahraga. Makanya badan aku kurus seperti tidak diberi makan. Tapi syukurnya aku selalu juara pertama disekolahku, Sekolah Dasar,hehehe.
Begitulah aku, saat dirumah bukannya belajar malah nonton TV, yang ditonton bukan berita atau pertandingan sepak bola, tapi menonton Spongebob, Doraemon, bahkan sinetron Azab. Yang gak ada masuk akalnya sama sekali.
Singkat cerita, aku pun mendaftar SNMPTN, dan memang tidak ada berharap lulus PTN, tetapi tuhan berkata lain, aku lulus di salah satu universitas ternama di kota Medan, ya kampus hijau dengan banyak pepohonan rindang, dan ada DPR di situ, bukan Dewan Perwakilan Rakyat, tapi Dibawah Pohon Rindang,hehehe iya kali disitu demonya. Banyak teman-teman ku yang memberi selamat padaku, aku sih biasa aja, karena ku pikir mereka hanya manis dimulut saja.
Hingga masa itu pun tiba, kampus kami pun mengadakan PAMB (Pembekalan Awal Mahasiswa Baru), kami disuruh pakai baju putih hitam, memakai topi sesuai fakultas, badge name dan lain sebagainnya, seru sih. Hingga ia pun tiba..
GGGGDDBBRRUKKK!!
“E eh adu duh, ma maaf ya, aku gak sengaja, aku jalan sambil main handphone”ucapku sambil membersihkan noda di celanaku.
“Oh iya, gak papa kok”, jawabnya sambil mengambil topinya yang terjatuh.
“Ternyata topinya berwarna abu-abu, ya sama seperti topi ku, artinya kami satu fakultas dong”(perkataan dalam hatiku)
Gadis itu pun bangkit dan menatap wajahku, matanya yang indah dan bersinar, bibirnya yang merona bak Lisa Blackpink, serta alis yang tebal, tapi sayang hidungnya pesek. Aku terdiam dan tertegun memperhatikan wajah gadis itu, mungkin air liurku pun sudah keluar.
“Hello, maaf bang”, ucapnya sambil melambaikan tangan ke mukaku.
“E ehh ma maaf ya kak, tadi saya keingat cucian kotor dua ember dirumah, makanya jadi bengong”, jawabku sambil tersipu malu.
”Ah yang benar bang,hmm”, sambungnya sambil tertawa kecil dan tersenyum.
“Uuuuuuuuunnnnccchhhh dunia ini rasaku mengecil, makin kecil dan makin kecil, hingga hanya muat untuk kami berdua”(perkataanku dalam hati)
 “Oh iya namaku Zacky Zulkifli, panggil Ki aja, jangan Zul , itu nama bapak aku”, tegasku duluan.
“Hehehe oke-oke, jurusan apa ki?”tanyanya.
“Aku jurusan Manajemen, Eh nama kamu siapa?”, tanyaku.
“Oh iya, namaku…”,belum sempat ia menjawab
Tengneng,neng nengg..diberitahukan kepada seluruh mahasiswa/i baru Universitas Negeri Medan untuk kembali ke gedung serba guna untuk melanjutkan acara PAMB, terima kasih.
“Eh udah disuruh balik tuh, aku duluan ya”, ujarnya sambil berlari meninggalkanku
“Tunggu dulu,heiiii aku belum tau nama kamu!!”, jeritku, sambil ingin mengejar, tapi tiba-tiba kakiku keram.
Aku pun terjatuh ke tanah, sambil merintih, aku melihat ada sebuah sapu tangan tepat didepan ku. Aku pun mengambil sapu tangan itu, aku yakin itu milik gadis tadi. Aku pun berdiam hingga keram nya hilang dan aku kembali ke gedung serba guna. Mengikuti serangkaian acara yang panjang, ada nyanyi-nyanyi, joget-joget juga ada. Hingga acara selesai, aku masih belum melihat gadis itu lagi. Aku pun pulang kerumah dengan menaiki angkot.
Pembelajaran diperkuliahan pun aktif, tidak ada waktu bermain dan menonton TV seperti dulu lagi. Suatu pagi, aku berangkat kuliah, kuliah siang, tetapi aku datang pagi. Duduk-duduk di taman baca, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada gadis yang sedang menangis di ujung bangku, aku pun menghampirinya.
“Maaf, ini”, ucapku sambil memberikan sapu tangan, walau bukan sapu tanganku
Ia meraih sapu tangan itu, dan langsung memelukku, aku pun terdiam kaku, tidak tau ingin berbuat apa, untung saat itu masih sepi, jadi tidak ada yang melihat.
“Maaf..mmm”, ucapku sambil menghindar
“Maaf ya, aku gak tau mau meluk siapa, dan mau cerita ke siapa” ucapnya sambil mengangkat kepalanya, ternyata dia gadis yang kemarin.
“Kamu..yang, yang waktu itu kan”, jelasku
“I iya, aku aku Ririn Hermawan, prodi manajemen, ya kita memang satu jurusan, cuma beda kelas”, jelasnya
“Oooh, jadi ngomong-ngomong kamu kenapa menangis?”, tanya ku serius
“Itu.. a aa aku, aku…”, jawabnya sambil tersedu-sedu
“Gak papa kok, cerita aja sama aku, siapa tau aku bisa bantu”, ujarku
“Waktu itu, sepulang dari PAMB, kepalaku sakit banget, sakit sekali, hingga pandanganku pun sedikit kabur, aku pun pergi ke dokter dengan menaiki Grab, dokter bilang aku terkena kanker otak stadium akhir, aku pulang kerumah dan menangis sejadi-jadinya, aku takut menelepon orang tua ku, takut membuat mereka cemas..”,belum sempat ia selesai bicara


“Kamu harus beritahu orang tua kamu Rin, ini bukan sakit biasa”, potong ku
“Kamu gak akan ngerti Ki, gak akan pernah ngerti, orang tua aku udah lama pisah Ki, dan kini ayah aku sakit-sakitan, dan ibu aku, ibu aku udah nikah lagi ki, dan aku gak tau alamatnya sekarang”, tegasnya sambil menangis
Aku pun terdiam dan tanpa terasa air mataku pun ikut mengalir, bisa dibilang aku orang yang tegar untuk hal-hal yang sedih, tapi entah mengapa kali ini air mata ini seperti mengalir begitu saja.
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB, waktunya aku masuk kelas.
“mmm Rin, aku izin ke kelas dulu ya, kamu gak papa aku tinggal?” tanya ku pada Ririn yang hanya tertunduk dan diam
Ia mengangkat kepalanya dan memandangku dengan pandangan yang kosong dan menanggukkan kepalanya serta tersenyum tipis kepadaku.
“Iya, gak apa-apa kok, terima kasih ya Ki, atas perhatiannya, selamat tinggal ki”, ujar Ririn dengan mata yang sayu, membuat aku jadi cemas
“Ih apaan sih Rin, kok kamu ngomong gitu, nanti aku balik lagi kok, kalau nggak besok-besokkan kita bisa jumpa lagi, pergi dulu ya”, ujarku sambil berjalan menuju kelas.
Sesampainya dikelas, dengan nomor 178.2.21, kelas yang nyaman menurutku, tapi tidak dengan orang-orang didalamnya. Aku pun masuk kelas, dan apa yang kulihat, dosen kami tidak hadir, dan para mahasiswa sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang mengerjakan tugas, ada yang joget-joget tik-tok yang lagi heboh sekarang “Entah apa yang merasukimu” hmmm pusing kepala ku dengar lagu itu.
            Aku hanya terdiam dan memikirkan keadaan Ririn, apa dia baik-baik saja atau malah sebaliknya. Aku sempat berpikir kenapa tuhan lakuin ini padaku, baru saja aku menemukan orang yang ku taksir, tapi malah jadi begini. Karena tidak ada dosen, kami pun pulang. Aku berlari menuju taman baca, melihat apakah Ririn masih berada disana. Tapi aku tak menemukan ia disana. Aku pun kembali kerumah, dan istirahat.
Keesokan paginya, seperti biasanya aku pergi ke kampus, hari-hari berlalu. Hingga kini, sudah satu bulan sejak aku terakhir bertemu dengan Ririn, aku tak pernah lagi berjumpa dengannya, mungkin karena ia sibuk dengan tugasnya, pikirku. Hingga..
“Ki, kamu tau gak Ririn anak manajemen C?”, tanya Ardi
“Taulah, emang kenapa di?”, tanyaku balik
“Kasian banget ya dia, baru juga masuk kuliah”, ujarnya
“Hah, maksudmu? Apa di? Ngomong yang jelas dong”, tegasku dengan nada tinggi
“Ki, kamu emang gak tau apa-apa, atau gimana?”, tanyanya lagi yang membuat aku semakin bingung
“Gak tau apa? Emangnya kenapa? Ada apa dengan Ririn?!” tegasku kembali
“Ki, hari ini tuh satu bulan kematian Ririn ki”, jawabnya
“Hah,hah ngomong apa sih kamu di, haha ngaco kamu”, jawabku
“Terserah kamu mau percaya atau nggak Ki, tapi yang jelas kamu gak ada kan jumpa atau melihat dia sebulan terakhir ini”, jawabnya
Aku hanya tertegun dan terdiam, tanpa terasa air mataku jatuh, aku menjerit sejadi-jadinya. Hingga tak menghiraukan mahasiswa/i yang berada disekitar kami.
“Di, kamu tau dimana makam Ririn?atau kostan dia?”, tanyaku
“Kalau makamnya aku kurang tau Ki, kalau kostannya aku tau, karena pacar aku satu kost dengannya.
Ardi pun memberikan alamat kost Ririn dan aku pun segera menuju kostannya dengan mengendarai motor Ardi. Sesampainya di kost tersebut, aku pun berlari dan segera mengetuk pintu kost. Keluarlah sosok wanita tua, mungkin itu ibu kostnya. Aku pun disilahkan masuk, kami pun cerita panjang lebar tentang kedatangan Ririn dan penyakitnya. Ibu kost masuk ke kamarnya dan membawa sepucuk surat.
“Nak, Ririn menitipkan ini pada ibu, dia bilang berikan surat ini pada pria yang kurus dan bertahi lalat di wajahnya”, ujar ibu itu sambil memperhatikan wajahku
“I ini a apa bu?”, tanyaku serius
“Ibu juga tidak tau, kamu bacaa sendiri aja ya”, jawab ibu tersebut.
Aku pun membuka surat itu dan membacanya “Untuk kamu, kamu yang pertama ku kenal, kamu yang membuat aku tersipu malu, kamu yang dapat membuat aku riang, kamu yang dapat meneduhkan hatiku. Aku berterima kasih padamu, terima kasih ya sudah menjadi sahabat aku, walaupun gak lama, aku senang banget bisa jumpa dengan kamu, oh iya, waktu pertama jumpa itu aku sengaja jatuhin sapu tangan aku dan gak nyebutin nama aku, biar kamu nya penasaran, intinya kamu jaga diri baik-baik ya, jangan cemberut mulu, banyakin senyum, mungkin saat kamu baca surat ini, aku udah gak ada didunia ini, aku udah disurga, aku akan menunggu kamu kok, walaupun kita tidak bisa bersama didunia, kuharap kita dapat bersatu disurga, dari Ririn Hermawan”.
Aku pun menangis sejadi-jadinya, dan menyesali kejadian itu, mengapa aku harus meninggalkan Ririn, ternyata itu adalah saat-saat terakhir Ririn berada didunia. Aku merasa bersalah. Aku pun pulang kerumah dengan membawa surat tersebut. Rasa bersalah itu terus menghantui ku, hingga aku melihat wajah Ririn yang pucat dan mata yang memerah. Aku menjerit sejadi-jadinya dan berlari ke dapur dan menambil sebilah pisau dan menghunuskan pisau itu ke perutku, hingga tubuhku tumbang dengan bersimba darah. Seketika pandanganku gelap gulita, hingga aku terbangun, aku berada disebuah kamar rumah sakit, aku menoleh ke kanan dan melihat sosok wanita yang berpakaian serba putih. Tiba-tiba wanita itu menoleh kearahku dan tersenyum.
”Ririn”, ujarku dengan suara lirih.
TAMAT

IDENTITAS PENULIS
Nama               : ZULKARNAEN
Prodi               : MANAJEMEN
Stambuk          : 2019
Kategori          : Cerpen
Kakak Asuh    : VOKASSO ELVISSAPM SIMANUNGKALIT

No comments:

Post a Comment