“ULAT MENJADI KUPU-KUPU”
MIKA YOHANA PAKPAHAN
Namaku Nadia, aku seorang wanita yang ceria dalam setiap hari-hariku. Wajar dong banyak yang suka berteman samaku. Ya, aku dan sifatku memang sudah banyak dikenal orang, bahkan sejak baru masuk sekolah, tidak sedikit orang yang sudah mengenalku dengan baik. Bagaimana tidak, begitu masuk sekolah, aku sudah terpilih jadi ketua kelas ditunjuk langsung oleh wali kelas dan teman-teman juga tidak menolak. Namun karena aku pikir tugas ketua kelas itu tidak sedikit, jadi aku meminta kepada wali kelas untuk dijadikan sebagai wakil saja dan ada baiknya kesempatan untuk jadi ketua kelas, dilimpahkan ke laki-laki saja.
Permintaanku pun dengan mudah dikabulkan oleh teman-teman dan juga wali kelas ku. Aku menjalani hari-hari ku semasa sekolah dengan baik, selain aku dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, aku juga mengikuti berbagai organisasi di sekolah ku. Mulai dari PRAMUKA sampai OSIS. Keaktifan ku di semua kegiatan sekolah itulah yang membuat aku memiliki banyak teman.
Para wanita di kelasku memang tergolong cantik-cantik, sehingga wajar para laki-laki senior disekolahku sering mendatangi ruang kelas kami. Tidak terkecuali pada wanita yang duduk tepat didepan ku. Ya dia sangat cantik wajar banyak yang menyukainya, Denada namanya. Namun, ada hal yang membuat dia kurang disenangi sama teman-teman yang lain, ya , dia suka mengatur dan mengurusi orang lain, selain itu dia juga suka bersikap semena-mena sama orang. Awalnya aku pikir mungkin gara-gara dia cantik sehingga banyak yang menyukainya, selain itu ayahnya sendiri juga sangat berlebihan kalau ada seseorang yang membuat Denada sakit hati.
Saat itu jam istirahat pertama tiba, seusai pelajaran bimbingan konseling, dan guru yang mengajar dikelas kami belum keluar. Seperti yang sudah biasa kami lakukan, sebelum dan sesudah pembelajaran harus berdoa. Nah sesudah kami selesai berdoa, ada yang aneh pada sikap Denada, dia menundukkan kepalanya ke atas meja dan masih dengan tangan terlipat sebagai sikap berdoa, sembari kami masih membereskan peralatan belajar kami masing-masing, tiba-tiba terdengar suara tangisan kecil dari arah Denada dengan posisi yang masih belum berubah. Teman-teman satu sekolahnya dulu sudah langsung tahu tentang apa yang akan segera terjadi pada Denada, dan mereka sudah penuh dengan wajah yang sedikit ketakutan dan kelihatannya sudah tidak sabar ingin meninggalkan ruangan kelas. Aku masih bingung dengan kondisi kelasku saat itu, dengan sedikit memaksa agar Denada tidak tertunduk-tunduk lagi, dengan pelan-pelan kami mengangkat kepalanya supaya posisi tegak. Namun dia menolak, dan sangat susah untuk memaksakannnya, akhirnya kami mencoba menarik tangannya saja namun tiba-tiba Denada terjatuh kebawah meja lalu kejang-kejang , mulutnya mengeluarkan buih-buih putih, matanya melotot namun tatapannya kosong, sembari aku memperhatikan dia,aku tidak tersadar ternyata tidak ada lagi teman-teman yang didalam ruang kelas , masing-masing mereka sudah lari ketakutan dan ada juga yang langsung berlari ke kantor guru untuk mencari pertolongan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu, aku bingung karena belum pernah melihat kejadian seperti itu.
Setelah beberapa saat guru datang Denada mulai diangkat keatas meja untuk memberikan pertolongan lalu aku mulai membersihkan buih-buih yang keluar dari mulutnya, memberi dia minum, dan mengolesi kepalanya dan kakinya dengan minyak. Setelah itu Denada dibawa berobat, dan diantarkan pulang. Masih dengan kebingungan tentang kejadian Denada, lalu aku menanyakan hal itu pada teman-teman satu sekolahnya dulu, mereka menceritakan bahwa Denada menderita penyakit Epilepsi, itu yang membuat dia sangat dijaga oleh orang tuanya sehingga tidak membiarkan satu orangpun menyakiti hatinya.
Setelah beberapa hari kemudian, Denada sudah kembali masuk sekolah dan mengikuti pembelajaran dengan baik. Sehubungan dengan pembagian kelompok belajar oleh guru, ternyata kami mendapat kelompok yang sama untuk mengerjakan suatu tugas, saat itu tugas yang diberikan cukup rumit, dan Denada saat itu tidak mau tau dengan tugas kelompok tersebut, akhirnya aku melibatkan senior untuk menyelesaikan tugas kami. Seusai aku mengerjakannya sendiri, dengan tiba-tiba Denada datang dan meminta tugas itu dariku dengan nada sedikit memaksa, lalu aku langsung menolaknya. Setelah itu dia marah-marah padaku dan sepertinya dia juga menjelek-jelekkan aku kepada teman-teman yang lain. Hal itu bisa ku ketahui karena ada beberapa orang yang melapor kepadaku.
Aku masih tetap pada diriku dan sikapku, memang dari dulu aku tidak menyukai orang suka main dibelakang. Hal itu membuatku langsung pergi menemuinya dan mempertegas tentang apa yang menjadi masalah antara kami berdua. Denada masih marah-marah dan ketus menjawabku. Karena sudah tidak tahan, aku kembali memarahinya dengan kata-kata yang memang tidak semestinya :
“Dasar nggak tau diri” udah sakit, belagu lagi, eh, ingat ngga sih Nad, saat kamu sakit siapa yang menemanimu? Saat mulutmu berbuih-buih siapa yang membersihkannya? Ngga ada tau Nad, yang ada, teman-teman yang lain ketakutan dan bahkan jijik sama kamu saat itu.
“Dasar nggak tau diri” udah sakit, belagu lagi, eh, ingat ngga sih Nad, saat kamu sakit siapa yang menemanimu? Saat mulutmu berbuih-buih siapa yang membersihkannya? Ngga ada tau Nad, yang ada, teman-teman yang lain ketakutan dan bahkan jijik sama kamu saat itu.
Demikian kata-kata yang kuucapkan kepadanya saat itu, lalu dia masih dengan santai menjawab
“apa urusanya sama kamu?” sahutnya ketus.
“saat penyakitmu kambuh, aku yang menemanimu di ruang kelas Denada, aku yang membersihkan air liur berbuih mu, aku yang menyapukan minyak ke kepalamu, aku yang memijit kaki dan menunggu mu hingga sadar, tapi apa balas mu? Kamu malah marah-marah ngga jelas, apa karena perkara tugas kelompok yang aku tidak bagi itu? Harusnya aku yang kesal samamu itu karena kamu yang nggak mau tau, ini malah sebaliknya. Asal kamu tau ya Nad, teman-teman yang lain juga udah muak sama kamu, harusnya kamu sakit rendah hati, bukannya jadi penyakitmu yang jadi alasanmu untuk semena-mena sama orang. Ingat ya Nad, kalau sakit siapa yang akan menolongmu kalau bukan teman-teman mu? Pikirkan itu dan berubalah. Demikian semua unek-unek dalam hatiku ku ungkapkan, lalu aku pergi meninggalkannya.
“apa urusanya sama kamu?” sahutnya ketus.
“saat penyakitmu kambuh, aku yang menemanimu di ruang kelas Denada, aku yang membersihkan air liur berbuih mu, aku yang menyapukan minyak ke kepalamu, aku yang memijit kaki dan menunggu mu hingga sadar, tapi apa balas mu? Kamu malah marah-marah ngga jelas, apa karena perkara tugas kelompok yang aku tidak bagi itu? Harusnya aku yang kesal samamu itu karena kamu yang nggak mau tau, ini malah sebaliknya. Asal kamu tau ya Nad, teman-teman yang lain juga udah muak sama kamu, harusnya kamu sakit rendah hati, bukannya jadi penyakitmu yang jadi alasanmu untuk semena-mena sama orang. Ingat ya Nad, kalau sakit siapa yang akan menolongmu kalau bukan teman-teman mu? Pikirkan itu dan berubalah. Demikian semua unek-unek dalam hatiku ku ungkapkan, lalu aku pergi meninggalkannya.
Sesaat setelah aku menguturakan semua kejengkelanku kepada Denada, aku menyesal karena sudah terlalu berlebihan mengaitkan masalah penyakit dengan masalah kami. Hal itu pasti akan menyakiti hatinya atau bahkan dia bisa jadi terlalu memikirkan kata-kataku , aku sungguh menyesal dan aku berniat untuk meminta maaf kepadanya.
Keesokan harinya, ketika aku hendak menemui Denada, tiba-tiba dia datang kepadaku, dan meminta maaf duluan.
“Nadia, makasih ya kamu udah buat aku sadar tentang semua sikapku selam ini, aku mau minta maaf samamu kalau kamu mungkin merasa jengkel kepadaku, kamu mau kan maafin aku?” demikian Denada meminta maaf kepadaku, dengan segera aku meniyakan permintaanya itu, aku juga kembali meminta maaf, mungkin karena kata-kata ku terlalu berlebihan dalam menyampaikan kejengkelanku.
Sejak saat itu, aku dan Denada menjadi teman baik, ada banyak hal lain yang aku ketahui dari Denada, baik dari penyakitnya, bagaimana keadaanya dirumah, dan lain-lain. Sebisa mungkin aku selalu menolong Denada saat dia butuh, kami pun menjadi sahabat baik, jika saat itu boleh aku akui ada perubahan yang terjadi pada diriku sendiri, dibalik kejengkelanku dulu kepada Denada, namun kini aku menyayanginya sebagai sahabatku. Aku juga mengamati perubahan spesifik yang dialami Denada, dia tidak suka menyuruh-nyuruh orang lagi, dia juga tidak semena-mena lagi terhadap orang lain. Selain itu Denada juga sudah mulai peduli tentang tugas atau hal-hal lainya yang melibatkan kerjasama. Saat itu aku belajar, untuk mencoba terbuka kepada orang lain, barangkali kehadiran kita, dapat memberi pengaruh positif kepada yang membutuhkan.
“Jangan menjelaskan dirimu kepada siapapun, terkadang mereka hanya ingin tahu, bukan peduli. Temukan sesorang yang mau mengerti dirimu, menegur ketika salah, dan saling melengkapi, SAHABAT contohnya.”
NAMA : MIKA YOHANA PAKPAHAN
PRODI : ILMU EKONOMI
STAMBUK : 2019KAKAK ASUH : YAN DANIE SIAHAAN
PRODI : ILMU EKONOMI
STAMBUK : 2019KAKAK ASUH : YAN DANIE SIAHAAN
No comments:
Post a Comment